Sabtu, 14 April 2018

Yang Tak Usai

Matahari sudah cukup orange untuk ukuran sore ini. Pikiran Anandita Pratiwi sedang kalut. Gadis yang akrab di sapa Tiwi ini, ingin ke tempat yang setidaknya membuatnya merasa lebih baik sebelum memutuskan untuk pulang kerumah. Tiwi masuk ke dalam kafe di seberang jalan, duduk di bagian pojok kafe sembari mengamati Zaki yang pergi dengan motornya. Setelah perdebatan yang cukup panjang, Tiwi memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Zaki. Dia terlalu lelah dengan semua tuntutan yang Zaki berikan. Zaki terlalu berlebihan. Pikirnya.

"Hot cokelat," suara berat membangunkan lamunan Tiwi.

Tiwi menoreh dan mengamati seseorang yang meletakan gelas khas kafe yang diisi dengan hot cokelat.

"Boleh duduk disini?" Seseorang itu kembali berucap sembari menunjuk kursi di depan Tiwi. Tiwi hanya mengangguk mengiyakan.

"Hot cokelat bisa bikin tenang." Tiwi semakin kebingungan melihat tingkah aneh lelaki di depannya ini.

"Maaf ini bukan pesanan saya," Tiwi menggeser gelas hot cokelat ke arah lelaki didepannya.

Lelaki itu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dan menggeser lagi gelas itu ke arah Tiwi. Tiwi semakin kebingungan, "Tapi itu pesanan saya, buat kamu."

"Kakak siapa ya?" Tiwi bertanya dengan suara pelan.

"Saya orang asing, kita gak perlu kenalan," lelaki itu menyeruput gelas berisi matcha yang dia bawa.

"Kamu kelihatan banyak masalah. Ceritakan." Lelaki itu menebak.

Tiwi sedikit kebingungan saat lelaki itu menebak, merasa tebakan lelaki itu benar, "Mmmm, gak terlalu banyak. cuma masalah kecil," Tiwi mengembungkan pipi.

"Aku tau, kamu butuh teman buat cerita," lelaki itu menyeruput lagi matcha miliknya dan melanjutkan ucapannya, "kadang, bercerita dengan orang asing itu mengasyikan," lelaki itu tersenyum manis ke arah Tiwi. Tiwi hanya melongo mendengar penuturan lelaki itu.

"Gimana kalo kita saling cerita? Ngeluarin unek-unek masing-masing tapi gak perlu tanya nama. Aku bakal ajak kamu ke suatu tempat, kalo kamu gak suka sama tempatnya, kita gak perlu ketemu lagi," lelaki itu menyodorkan tangannya ke arah Tiwi sebagai tanda deal.
Tiwi sedikit berpikir, mengapa ada orang seaneh ini di dunia? Memberikan hot cokelat, menebak, dan menawarkan diri untuk mendengarkan ceritanya di saat pertama kali bertemu.

    Entah mendapatkan dorongan darimana, Tiwi menyalami uluran tangan lelaki itu tanda deal. Beberapa menit kemudian keduanya keluar dari kaffe. Lelaki itu membawa Tiwi kesebuah tempat dengan motor besarnya. Tiwi merasa aneh pada dirinya sendiri. Dia tidak pernah merasa seaman ini, terlebih lelaki yang sekarang membawanya adalah lelaki yang belum dia kenal. Ah Tiwi tidak berpikir negative tentang lelaki ini, toh kalau tempatnya tidak Tiwi sukai mereka tidak akan bertemu lagi. Pikir Tiwi.
    Setelah belasan menit berada di jalanan Tiwi dan lelaki aneh itu sampai disebuah bukit yang ditumbuhi ilalang liar. Bunga-bunga dandelionpun turut mengindahkan pemandangan bukit ini.

"Ini tempatnya," lelaki itu membuka helmnya dan memarkirkan motor besarnya di bawah pohon.Tiwi turun dari motor, dan mengedarkan pandangan.

Semilir angin yang menerpa-nerpa rambut Tiwi membuat lelaki itu berdecak kagum melihat cantiknya Tiwi. Tiwi tidak banyak bicara, dia masih mengedarkan pandangannya dan sialnya Tiwi menyukai tempat ini. Udaranya, pemandangannya, dan senjanya terlihat lebih hidup. Sempurna. Lirih Tiwi.

"Kamu suka," lelaki itu berdiri dibelakang Tiwi, "kita bakal ketemu lagi." Suara tawa mengiringi ucapannya.

Tiwi hanya tersenyum, menatap lelaki yang sedang mengeluarkan kamera dari dalam tas yang ia pakai. Lelaki itu terlihat sudah ahli memegang kamera. Memotret ke segala arah.

"Kamu photographer ya?" Tiwi menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.

"Iya," ucap lelaki itu tanpa mengalihkan pandangan. "kita mulai cerita yaa." Lelaki itu menuntun Tiwi untuk duduk disekitaran ilalang. Menikmati senja yang mulai menjingga.

"Jadi gimana? kamu punya masalah apa?" Lelaki itu meletakan kamera didepannya.

Tiwi menatap lurus, merasakan sesak yang ada di dadanya karena kejadian beberapa jam yang lalu.

"Cuma kesalahpahaman biasa Ka," Tiwi menghembuskan nafas lembut. "aku pengen fokus buat belajar, tapi Zaki gak pernah ngerti. Dia bilang aku gak mentingin dia sebagai pacar. Dan aku milih buat ninggalin dia." Tiwi terseyum miring.

"Kamu hebat," lelaki itu menyahuti.

"Hebat?" Ulang Tiwi.

"Iya kamu hebat. Disaat anak-anak lain berlarut-larut dalam percintaan, kamu malah acuh," lelaki itu menjelaskan panjang lebar. Merasa kagum dengan prinsip gadis disampingnya ini.

"Entahlah Kak, mungkin karena aku gak pernah ngerasain jatuh cinta yang sejatuh-jatuhnya, selalu berawal dari kasihan dan berakhir gitu aja." Sahut Tiwi.
      Tiwi hanya tersenyum mengingat kejadian bodoh saat dirinya terpaksa menerima cinta Zaki satu tahun lalu. Dengan alasan kasihan. Itu semata-mata hanya untuk menghargai. Tapi meskipun begitu, Tiwi tidak pernah sama sekali berniat untuk mengacuhkan Zaki. Dia memang selalu bersikap biasa saja kepada semua orang. Kecuali pada orang tuanya dan orang aneh ini.

"Ha ha ha, lucu kamu." Tawa lelaki itu membuat Tiwi kebingungan. Lelaki itu benar-benar aneh. Menertawakan apa?

"Apanya yang lucu Kak?" Tiwi bertanya.

"Kamu lucu," lelaki itu masih tertawa.

Tiwi hanya merilik sebentar, merasa tertular dengan tawa lelaki disampingnya. Tiwi ikut tertawa melambungkan beban yang dia tanggung sendiri.

"Tau filosofi ilalang?" Lelaki itu meredakan tawanya.

"Enggak, emang apa?" Sahut Tiwi.

"Aku gak tau, makanya nanya kamu, ha ha ha," lelaki itu kembali tertawa.

"Ih dasar, receh banget," Tiwi memanyunkan bibirnya ke depan tanda tak suka. Lalu menyenggol lengan lelaki disampingnya dan tertawa.

"Kalo seandainya nanti kamu nemuin hati yang bisa bikin kamu ngerasa jatuh cinta sejatuh-jatuhnya, kamu bakal berani ninggalin buku-buku itu?" Lelaki itu kembali berucap.

"Gak ada yang bakal bisa bikin aku jatuh cinta melebihi cinta aku ke buku,"jawab Tiwi.

"Kalo ternyata ada?" Lelaki itu menatap Tiwi dalam.

Aneh. Lelaki ini merasa gadis di sampingnya akan membuat keributan dalam batinnya. Rasa yang menghampiri batinnya saat melihat kekacauan yang terlihat jelas diwajah gadis ini saat di kafe, sulit untuk dijelaskan. Rasanya ingin membuat gadis ini tenang.
    Gadis itu tidak cepat menjawab. Tatapannya lurus menatap dandelion yang sedang bergerak-gerak akibat angin. Lelaki itu menatap sebagian wajah Tiwi dengan tajam. Melihat setiap inci wajah cantik Tiwi. Entah perasaan apa yang sedang memburu dihati lelaki itu. Rasa nyaman lebih mendominasi.

"Sejak kapan suka senja?" Tiwi mengalihkan ucapan lelaki itu.
Merasa aneh membahas perihal perasaan. Karena diapun tidak pernah memikirkan akan ada seseorang yang membuatnya jatuh cinta melebihi kecintaannya pada buku.

"Sejak-"  lelaki itu sedikit berpikir, "lama."

"Ih labil, gak yakin gitu jawabnya," Tiwi memanjukan bibir bawahnya.

"Beneran. Yang pasti udah lama banget," lelaki itu ikut tertawa dan menunjuk pohon yang berdiri di sampingnya, " kira-kira, lamanya hampir seumuranlah sama pohon itu."

Tawa keduanya kembali meledak begitu saja. Tidak terlihat seperti dua orang asing yang tidak saling mengenal.

"Kamu mau tau gak? rahasia aku?" Lelaki itu menghentikan tawanya, "aku mulai jatuh cinta sama gadis yang bahkan aku gak tau nama dia siapa," lelaki itu meluruskan pandangan. Mengambil kamera yang di pegangnya, membuka satu file foto yang ia ambil saat pertama kali turun dari motornya. Memperlihatkan gadis di dalam foto dihadapan Tiwi. Tiwi. Gadis di dalam foto itu Tiwi. Lalu hening.
   Senja mulai menghilang bersama malam.  Setelah mengucapkan "see you" kedua orang asing itu berpisah di tempat pertama kali mereka bertemu. Kedua orang itu sama-sama berharap dapat disatukan kembali.
-------
    Beberapa minggu setelahnya, Tiwi sering mendapat kiriman. Entah hanya sebatang coklat, atau setangkai bunga mawar putih. Tidak pernah lupa lelaki itu menyelipkan selembar kertas berisikan tulisan-tulisan tangannya. Beberapa kalimat puisi, atau beberapa baris filosofi untuk memotivasi Tiwi. Sering sekali. Tiwi bahkan sudah kehilangan hitungannya sendiri. Tiwi hanya senyum-senyum sendiri melihat keanehan lelaki itu. Tiwi ingin sekali bertemu dengan lelaki itu lagi. Tapi Tiwi bingung bagaimana cara membalas semua surat dari lelaki itu. Tiwi benar-benar tidak tahu siapa nama lelaki itu. Hati Tiwi sedikit bergetar. Entah kenapa dia merasa lelaki ini telah mencuri sebagian hatinya.
     Sore ini, cuaca sedikit nakal. Gerimis kecil yang membasahi aspal. Sabtu yang sedikit aneh. Pikir Tiwi. Pagi tadi, Tiwi mendapat kiriman lagi. Sedikit berbeda dengan kiriman yang biasanya Tiwi terima. Masih spesial bahkan lebih spesial. Bunga mawar putih, boneka kecil pink, lembaran foto Tiwi saat di bukit dan satu lembar kertas berisikan tulisan tangan lelaki itu.

"Jadilah seperti ribuan ilalang yang tumbuh di atas bukit. Sekencang apapun terpaan angin, selama apapun angin itu menerpa, dia hanya akan meliuk-liuk dan kembali berdiri saat angin berhenti." Tiwi kembali tersenyum membaca tulisan dalam kertas yang dipegangnya.

"Katanya gak tau filosofi ilalang," lirih Tiwi dan tersenyum miring.
  Tiwi merasa lebih baik saat membaca tulisan itu, seperti ada dorongan kuat untuk lebih tegar menjalani kehidupannya. Lelaki itu pernah mengatakan bahwa hidup itu seperti jalan. Kadang dia mulus, berliku, berlubang, dan penuh paku.
     Motivasi-motivasi yang lelaki itu kirim lewat tulisan, berhasil membuat Tiwi merasa dihargai walau secara tidak langsung. Berbeda sekali saat masih bersama Zaki yang selalu menuntut waktu dan cemburu pada buku-buku milik Tiwi. Alasan itulah yang membuatnya jengah dan lelah atas hubungannya dengan Zaki.
    Sore yang sedikit basah itu, membawa Tiwi kedalam kafe. Tempat pertama kali Tiwi dan lelaki itu bertemu. Dia masih memegangi amplop pink yang dia temukan di kotak surat pagi tadi. Di bagian depan amplop itu tertulis bahwa lelaki itu meminta Tiwi datang ke kafe. Dan seperti perjanjian di awal, lelaki itu akan memberi tahu namanya saat pertemuan yang kedua kalinya.

"Ini isinya apa ya," Tiwi membolak-balikan amplop di tangannya.
"Emang kenapa ya kalo aku buka sekarang?" Tiwi kembali bertanya pada dirinya sendiri. Pasalnya Tiwi hanya boleh membuka amplop itu saat cowok itu datang.
    Tiwi sedikit bertanya pada dirinya sendiri, mengapa dia sampai rela datang ke kafe ini hanya untuk memenuhi rasa penasarannya terhadap lelaki aneh itu. Tapi dia tidak menepisnya. Membiarkannya dengan rasa sedikit bahagia. Tiwi mulai jatuh cinta.
   Tiwi teringat saat lelaki itu memperlihatkan foto di dalam kameranya. Yaitu, foto dirinya saat membelakangi kamera. Lelaki itu bilang, dia mulai jatuh cinta pada dirinya. Entahlah, Tiwi juga merasakan hal yang sama. Mungkin ini alasan kenapa Tiwi sampai mau repot-repot datang ke kafe ini.
    Satu jam telah berlalu, orang yang datang ke kafe ini sudah hampir belasan orang. Yang lain duduk, yang lainnya keluar. Tapi Tiwi masih tetap di posisi semula. Di kursi pojok menghadap jendela yang langsung menghadap jalanan. Gerimis masih saja berlangsung, Tiwi sudah mulai gelisah. Sabtu benar-benar mulai menyebalkan. Pikir Tiwi. Tiwi benar-benar muak. Tubuhnya mulai lelah karna sendari tadi hanya duduk.

"Kayanya aku di boongin deh," batin Tiwi.
"Bodoh banget sih aku? mau aja nungguin orang yang gak kenal," Tiwi sedikit mengomeli dirinya sendiri. Merasa terlalu baik percaya pada tulisan-tulisan lelaki itu.
   Tiwi keluar dari kafe. Hanya berdiri di halaman kafe, tepat di depan pintu masuk. Gerimis masih saja turun. Tiwi masih memegangi amplop pink yang di pegang.

"Kamu itu isinya apa sih? bikin penasaran tau gak?" Tiwi mendekatkan amplop pink tepat di depan wajahnya, "buka aja dah yaa."

    Tiwi membuka amplop itu dengan rasa sebal. Dia terlalu bodoh menunggu lelaki aneh itu. Tiwi baru saja berpikir bahwa rasa terhadap lelaki itu mulai tumbuh, walau hanya dalam diam. Tapi setelah kejadian menunggu ini, Tiwi sedikit kecewa.
     Suara decitan ban dan aspal mengagetkan Tiwi. Suara jeritan dari beberapa pejalan kakipun turut membuat Tiwi melebarkan mata. Suara benturan antara dua bendapun terdengar jelas. Kejadian itu terjadi begitu cepat. Orang-orang mulai berdatangan. Pelayan kafepun ikut keluar untuk menolong. Tiwi hanya terpaku memegang erat amplop yang baru Tiwi buka setengahnya, menyaksikan seseorang dengan motor besar tersungkur dan tertindih motornya sendiri. Mobil yang datang dari arah berlawanan itupun ringsek dibagian depan. Pengemudi keluar dan ikut megerubungi orang yang ia tabrak barusan. Tiwi hanya menggigit bibir bawahnya, matanya masih melebar. Orang-orang mulai mengerubungi lelaki itu. Tiwi membuka amplopnya dengan cepat. Melihat apa isi amplop itu. Membaca kertas yang ada di dalamnya dengan begitu terburu-buru.

"Hai cantik, bolehkah ku panggil engkau senja? Haha bahkan kamu lebih indah dari senja. Tatapan mu lebih indah darinya. Hei senja, bolehkah ku sama kan engkau dengan dia? Gadis cantik yang ku perkenalkan padamu beberapa minggu lalu. Hei cantik, aku mulai mencintaimu. Aku tahu, bahwa kau juga mulai mencintaiku. With love -BILY."

  Tiwi meremas amplop ditangannya. Berlari menghampiri kerubungan orang-orang. Mencari celah untuk memastikan siapa lelaki yang di sedang orang-orang ini tolong. Tiwi hanya terpaku saat seseorang membuka helm yang di pakai sang pengemudi motor. Menutup mulut dengan tangannya. Lelaki itu terlihat tidak sadarkan diri. Wajah tampannya  bercampur dengan darah yang keluar dari pelipisnya.

"Telpon ambulance," titah seseorang pada pengemudi mobil yang menabrak.

"Bily?" Panggil Tiwi disela isakan tangisnya.


  
















  Hai teman-teman, namaku Mia Rusmia. Aku lahir di Bogor, 30 september 18 tahun yang lalu. Penulis amatir, karena Aku tidak berbakat menulis, menulis adalah hobiku. Aku hobi menulis di buku, ditembok, atau menulis di kaca rumah yang berdebu. Selain hobi menulis, aku juga hobi makan tapi badanku tidak pernah gemuk, anugerah sekali. Bagi yang ingin memberi kritik dan saran, atau untuk yang ingin lebih dekat denganku boleh follow instagramku:miyong532 atau email:miyong532@gmail.com terima kasih.

Senin, 09 April 2018

Mia rusmia

    Anandita Pratiwi adalah gadis berusia 17tahun yang berkepribadian menarik. Tapi, untuk sebagian orang, kepribadian Tiwi dianggap aneh. Ambisius. Dingin. Walau sebenarnya dia memiliki jiwa yang peduli.
Sore ini Tiwi turun dari angkutan umum sehabis mencari buku di toko buku langganannya. Tiwi turun di depan gang rumahnya setelah memberikan beberapa lembar uang dua ribuan kepada supir angkot.

"Dari mana Wi?" Tiwi sedikit tersentak saat melihat keberadaan Zaki Mahenra-kekasihnya. Tidak lama Tiwi memasang wajah kaget. Hanya beberapa detik dan kemudian wajahnya kembali tanpa ekpresi. Tiwi merasa kedatangan Zaki yang tiba-tiba akan membuat hatinya brutal.

"Abis nyari buku, ngapain disini?" Tiwi balik bertanya.

"Tumben nyari buku sendirian? kemana Ranti?" Zaki kembali bertanya. Ranti adalah sahabat dekat Tiwi.

"Ranti lagi ada urusan." Jawab Tiwi.

"Nyari buku sampe sore gini? bohong lo ya?" Zaki mengerutkan dahi dan mengangkat  sudut bibir kanannya. Membentuk senyuman miring.

"Gue berangkat siang, wajar kalo jam segini baru balik." Tiwi mulai jengah mendapat tuduhan dari Zaki.

"Bohong banget lo." Zaki kembali berucap.

"Gue gak bohong." Jawab Tiwi membela diri. Ini bukan kali pertamanya Zaki menuduh Tiwi yang tidak-tidak. Posesif. Itulah kata yang cocok untuk menggambarkan seperti apa Zaki.

"Kalo lo beneran cari buku, lo gak mungkin jalan sendirian terus-" belum sempat Zaki menyelesaikan ucapannya, Tiwi lebih dulu bersuara.

"GUE BILANG RANTI ADA URUSAN!" jawab Tiwi penuh penekanan. Tiwi berlalu melewati Zaki yang duduk anteng di atas motornya.

"Kapan sih lo berubah Pratiwi?" Zaki mengeraskan suara, sukses membuat Tiwi berbalik.

"Bukan gue yang gak berubah, lo yang gak pernah ngerti," Tiwi kembali berjalan menjauhi Zaki yang masih tersenyum miring.

"Berenti!" Zaki turun dari motornya dan menahan tangan Tiwi.

"Tiwi, gue sayang sama lo." Zaki kembali berucap.

"Kalo lo sayang sama gue, lo ga bakal nuntut waktu gue buat selalu ada buat lo," Tiwi menghadap Zaki, matanya mulai sayu, merasa lelah dengan semua tuntuan dari Zaki.

     Tiwi melepaskan tangan Zaki yang melingkar di pergelangan tangannya. "Hidup gue ga tertuju sama lo doang Ki, gue butuh belajar, gue butuh waktu buat dapetin apa yang gue mau," Tiwi  melanjutkan ucapannya, "lo bukan orang baru dikehidupan gue, harusnya lo lebih tau".

"Gue cuma minta lo jangan terlalu ambisius gini Wi, gue ini pacar lo." Zaki balas menatap tatapan Tiwi.

"Gue inget lo pacar gue. Tapi kalo lo kaya gini terus, yang ada lo bisa ngancurin gue Ki." Tiwi memutar bola matanya jengah.

"Gue juga anak sekolah Tiwi, gue juga belajar buat dapetin nilai bagus kayak lo, tapi lo berlebihan," Zaki mencoba memberi pengertian, bahwa dia tidak bisa melihat Tiwi terlalu berambisi seperti ini.

"Kalo lo emang belajar lo harusnya bisa ngerti Ki, tapi nyatanya apa? engga kan? lo ga ngerti!" Tiwi menggeleng-gelengkan kepalanya, "karna kita beda Ki, lo berada dan gue engga. Gue perlu berusaha dan lo engga!" Tiwi merasa Zaki yang berlebihan dan tidak pernah paham,  "lo tau? Gue bukan orang yang berada, yang bisa masuk Universitas yang gue mau dengan mudah," Tiwi menatap Zaki dalam-dalam.

Zaki hanya menganga mendengar penjelasan panjang lebar dari Tiwi. Ini kali pertamanya Zaki melihat Tiwi benar-benar penuh emosi. Meskti tidak dengan suara yang lantang, ucapan Tiwi langsung dapat menonjok tepat didada Zaki. Marahnya orang dingin memang lebih menyakitkan. Pikir Zaki. Belum sempat Zaki membuka mulut, Tiwi kembali bersuara.

"Gue perlu belajar, gue perlu dapetin beasiswa itu dengan utuh Ki, gue capek gini terus," Keadaan rumah Tiwi yang berbeda membuat Tiwi benar-benar tidak ingin terlalu larut tentang masalah percintaan. Menurut Tiwi masa depan lebih penting.

Zaki rasa dia tidak salah. Meminta sedikit hak sebagai pacar. Tapi Tiwi selalu sibuk dengan buku-buku pelajaran. Menurut Zaki itu terlalu berlebihan. Belajar boleh, tapi itu bukan berarti Tiwi bisa mengabaikannya.

Tiwi memejamkan mata dan menghembuskan nafas kasar, "Kita masing-masing dulu aja Ki, lo butuh orang yang bisa fulltime sama lo," kata-kata Tiwi setidaknya sukses membuat Zaki menganga dan mengerutkan dahi membentuk huruf V sempurna, "dan itu bukan gue Ki, makasih lo udah nyoba ngertiin gue selama 1tahun ini."

Tiwi berlalu begitu saja. Mengabaikan teriakan Zaki yang terus menyebut-nyebut namanya. Tidak sadar sepanjang perdebatan tadi, satu pasang mata memperhatikan dibalik kaca kafe yang terletak di seberang jalan. Dia tidak mendengar percakapan itu, Dia hanya bisa memastikan bahwa keadaan tadi tidak baik-baik saja.

-------

     Tiwi berlalu meninggalkan Zaki yang terus berteriak. Zaki terlalu berlebihan. Pikirnya.
Matahari sudah cukup orange untuk ukuran sore ini. Tiwi tidak ingin pulang kerumah dulu. Pikirannya terlalu kalut. Tiwi ingin ke tempat yang setidaknya membuatnya merasa lebih baik untuk pulang kerumah. Tiwi masuk ke dalam kafe di seberang jalan, duduk di bagian pojok kafe sembari mengamati Zaki yang pergi dengan motornya.

"Hot cokelat," Suara berat membangunkan lamunan Tiwi. Tiwi menoreh dan mengamati seseorang yang meletakan gelas khas kafe yang diisi dengan hot cokelat.

"Boleh duduk disini?" Seseorang itu kembali berucap sembari menunjuk kursi di depan Tiwi. Tiwi hanya mengangguk mengiyakan.

"Hot cokelat bisa bikin tenang," Tiwi semakin kebingungan melihat tingkah aneh cowok di depannya ini. Tiwi bisa memperkirakan lelaki ini berusia tidak jauh darinya. Mungkin mahasiswa.

"Maaf ini bukan pesanan saya," Tiwi menggeser gelas hot cokelat ke arah cowok didepannya.

Cowok itu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dan menggeser lagi gelas itu ke arah Tiwi. Tiwi semakin kebingungan, "Tapi itu pesanan saya, buat kamu."

"Kakak siapa ya?" Tiwi bertanya dengan suara pelan.

"Saya orang asing, kita gak perlu kenalan," cowok itu menyeruput gelas yang berisi matcha.

Tiwi kembali bertanya, "Maksud kakak?"

"Kamu punya masalah ya? Mau cerita?" Cowok itu menebak.

     Tiwi sedikit kebingungan saat cowok itu menebak, merasa tebakan lelaki itu benar, "Mmmm, gak terlalu banyak cuma masalah kecil," Tiwi mengembungkan pipi.

"Aku tau, kamu butuh teman buat cerita," cowok itu menyeruput lagi matcha miliknya dan melanjutkan ucapannya, "Kadang, bercerita dengan orang asing itu mengasyikan," Cowok itu tersenyum manis ke arah Tiwi.
Tiwi hanya melongo mendengar menuturan cowo itu.

"Gimana kalo kita saling cerita? Ngeluarin unek-unek masing-masing tapi gak perlu tanya nama. Aku bakal ajak kamu ke suatu tempat, kalo kamu gak suka sama tempatnya, kita gak perlu ketemu lagi," Cowok itu menyodorkan tangannya ke arah Tiwi sebagai tanda deal.

Tiwi sedikit berpikir, mengapa ada orang seaneh ini di dunia? Memberikan hot cokelat, menebak, dan menawarkan diri untuk mendengarkan ceritanya di saat pertama kali bertemu.
     
          Entah mendapatkan dorongan darimana, Tiwi menyalami uluran tangan cowo itu tanda deal. Beberapa menit kemudian keduanya keluar dari kaffe.
Cowok itu membawa Tiwi kesebuah tempat dengan motor besarnya. Tiwi merasa aneh pada dirinya sendiri. Dia tidak pernah merasa seaman ini, terlebih cowok yang sekarang membawanya adalah cowok yang belum dia kenal. Ah Tiwi tidak berpikir negative tentang cowok ini, toh kalau tempatnya tidak Tiwi sukai mereka tidak akan bertemu lagi. Pikir Tiwi.

         Setelah belasan menit berada di jalanan Tiwi dan cowok aneh itu sampai disebuah bukit yang ditumbuhi ilalang liar. Bunga-bunga dandelionpun turut mengindahkan pemandangan bukit ini.

"Ini tempatnya," Cowok itu membuka helmnya dan memarkirkan motor besarnya di bawah pohon.
Tiwi turun dari motor, dan mengedarkan pandangan.
Semilir angin yang menerpa-nerpa rambut Tiwi membuat cowok itu berdecak kagum melihat cantiknya Tiwi. Tiwi tidak banyak bicara, dia masih berdecak kagum dengan tempat ini. Indah. Lirih Tiwi.

"Kamu suka," Cowok itu berdiri dibelakang Tiwi, "kita bakal ketemu lagi, " Suara tawa mengiringi ucapannya.

Tiwi hanya tersenyum dan menatap cowok yang sedang mengeluarkan kamera dari dalam tas yang ia pakai.
Memotret ke segala arah.

"Kamu photographer ya?" Tiwi menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.

"Iya." Ucap cowok itu tanpa mengalihkan pandangan. "kita mulai cerita yaa." Cowok itu menuntun Tiwi untuk duduk disekitaran ilalang. Menikmati senja yang mulai menjingga.

"Jadi gimana? kamu punya masalah apa?" Cowok itu meletakan kamera didepannya.

Tiwi menatap lurus, merasakan sesak yang ada di dadanya karena kejadian beberapa jam yang lalu.

"Cuma kesalahpahaman biasa ka," Tiwi menghembuskan nafas lembut. "aku pengen fokus buat belajar, tapi Zaki gak pernah ngerti. Dia bilang aku gak mentingin dia sebagai pacar. Dan aku milih buat ninggalin dia." Tiwi terseyum miring.

"Kamu hebat," Cowok itu menyahuti.

"Hebat?" Ulang Tiwi.

"Iya kamu hebat. disaat anak-anak lain berlarut-larut dalam percintaan, kamu malah acuh," Cowok itu menjelaskan panjang lebar. Merasa kagum dengan prinsip gadis disampingnya ini.

"Entahlah kak, mungkin karena aku gak pernah ngerasain jatuh cinta yang sejatuh-jatuhnya. Selalu berawal dari kasihan dan berakhir gitu aja." Tiwi hanya tersenyum mengingat kejadian bodoh saat dirinya terpaksa menerima cinta Zaki satu tahun lalu. Dengan alasan kasihan. Itu semata-mata hanya untuk menghargai. Tapi meskipun begitu, Tiwi tidak pernah sama sekali berniat untuk mengacuhkan Zaki. Dia memang selalu bersikap biasa saja kepada semua orang. Kecuali pada orang tuanya dan orang aneh ini.

"Ha ha ha, lucu kamu." Tawa cowok itu membuat Tiwi kebingungan. Cowok itu benar-benar aneh. Menertawakan apa?

"Apanya yang lucu kak?" Tiwi bertanya.

"Kamu lucu," cowok itu masih tertawa.

Tiwi hanya merilik sebentar, merasa tertular dengan tawa cowok disampingnya. Tiwi ikut tertawa melambungkan beban yang dia tanggung sendiri.

"Tau filosofi ilalang?" Cowok itu meredakan tawanya.

"Enggak, emang apa?" Sahut Tiwi.

"Aku gak tau, makanya nanya kamu, ha ha ha," cowok itu kembali tertawa.

"Ih dasar, receh banget," Tiwi memanyunkan bibirnya ke depan tanda tak suka lalu menyenggol lengan cowok disampingnya dan tertawa.

"Kalo seandainya nanti kamu nemuin hati yang bisa bikin kamu ngerasa jatuh cinta sejatuh-jatuhnya, kamu bakal berani ninggalin buku-buku itu?" Cowok itu kembali berucap.

"Gak ada yang bakal bisa bikin aku jatuh cinta melebihi cinta aku ke buku,"Jawab Tiwi sembari diikuti tawa yang melambung.

"Kalo ternyata ada?" Cowok itu menatap Tiwi dalam.
Aneh. Cowok ini merasa gadis di sampingnya akan membuat keributan dalam batinnya. Rasa yang menghampiri batinnya saat melihat kekacauan yang terlihat jelas diwajah gadis ini tadi siang, sulit untuk dijelaskan. Rasanya ingin membuat gadis ini tenang.

    Gadis itu tidak cepat menjawab. Tatapannya lurus menatap dandelion yang sedang bergerak-gerak akibat angin. Cowok itu menatap sebagian wajah Tiwi dengan tajam. Melihat setiap inci wajah cantik Tiwi. Entah perasaan apa yang sedang memburu dihati cowok itu. Rasa nyaman lebih mendominasi.

         "Sejak kapan suka senja?" Tiwi mengalihkan ucapan cowok itu. Merasa aneh membahas perihal perasaan. Karena diapun tidak pernah memikirkan akan ada seseorang yang membuatnya jatuh cinta melebihi kecintaannya pada buku.

"Sejak-" Cowok itu sedikit berpikir,"Lama."

"Ih labil, gak yakin gitu jawabnya," Tiwi tertawa.

"Beneran. Yang pasti udah lama banget," Cowok itu ikut tertawa dan menunjuk pohon yang berdiri di sampingnya, " kira-kira, lamanya hampir seumuranlah sama pohon itu," Tawa keduanya kembali meledak begitu saja. Tidak terlihat seperti dua orang asing yang tidak saling mengenal.

"Kamu mu tau gak? rahasia aku?" Cowok itu menghentikan tawanya.

"Apa?" Sahut Tiwi.

"Aku mulai jatuh cinta sama gadis yang bahkan aku gak tau nama dia siapa," cowok itu meluruskan pandangan. Mengambil kamera yang di pegangnya, membuka satu file foto yang ia ambil saat pertama kali turun dari motornya. Memperlihatkan gadis di dalam foto dihadapan Tiwi. Lalu hening.

       Senja mulai menghilang bersama malam.  Setelah mengucapkan "see you" kedua orang asing itu berpisah di tempat pertama kali mereka bertemu. Kedua orang itu sama-sama berharap dapat disatukan kembali.

-------

         Setelah beberapa hari, Tiwi masih saja tertawa saat mengingat keanehan yang terjadi dengan cowok itu. Betapa lupanya Tiwi dengan bebannya selama ini saat bersama cowok itu. Tiwi menghela nafas dan menuruni anak tangga menuju ke florist yang ada di lantai bawah rumahnya. Rumah Tiwi memang menyatu dengan florist milik orang tuanya.

"Bi imah, udah sore. Bi imah pulang aja, biar aku yang jaga," Tiwi tersenyum dan meletakan buku yang sengaja ia bawa dari kamarnya untuk menemani Tiwi di ruangan penuh bunga ini.

"Iyaa neng, bibi pulang dulu ya," Bi Imah menjawab dan bersiap untuk pulang.

"Salamin yaa buat anaknya Bi Imah, Nanda," Tiwi melambaikan tangan pada Bi Imah yang sudah menjauh dari bangunan florist ini.

Baru saja Tiwi membuka beberapa halaman buku, suara Bu Santi-mamah Tiwi mengagetkannya.

"Tiwi," panggil Mamah sembari mendekati anak sulungnya ini. Tiwi adalah anak sulung dari 3 bersaudara.

"Eh kenapa Mah?" Jawab Tiwi menutup bukunya.

"Mamah nemuin ini di depan," Bu Santi menyodorkan sebuah kotak.

Tiwi mengambil kotak yang di sodokan Mamahnya, "Tiwi ga pesen baju online Mah."

"Terus siapa?" Mamahnya kembali bertanya, "disitu emang ga ada tulisan buat kamu, tapi Mamah kira itu dari temen kamu. Kurirnya juga cuma bilang buat anak gadis di rumah ini."

Tiwi sedikit berpikir tapi tak lama ia kembali berucap, "Oh iya kali Mah, makasi ya Mah."

"Tiwi, kamu bentar lagi mau ujian ya?" Mamahnya kembali membuka suara.

Tiwi menatap Mamahnya, "iya mah, makanya aku belajar."

"Mau ikutan les ga? pasti temen-temen kamu udah pada ikutan les kan?" Mamah Tiwi mengelus-elus puncak kepala Tiwi.

"Emang Mamah ada uang?" Tiwi balik bertanya.

Mamah Tiwi sedikit berpikir dan tersenyum, "Ada dong."

"Gausah deh Mah, Tiwi masih bisa belajar sendiri, temen-temen Tiwi juga pada pinter. Tiwi bisa minta ajarin ke mereka," Tiwi menjawab tanpa ragu. Tiwi sangat paham betul bahwa Mamahnya itu tidak memiliki uang untuk les. Mamah Tiwi hanya merasa bertanggung jawab atas anak sulungnya ini.

"Yaudah, Mamah ke dapur dulu, nanti kita makan sama-sama," Bu Santi tersenyum dan berlalu.

"Iya Mah, nanti Tiwi nyusul," Sahut Tiwi. Tiwi sedikit larut dalam percakapannya barusan tapi ia segera menepis kesedihannya. Beralih ke kotak yang sedari tadi ia pegang.

         Sebenarnya Tiwi sedikit kebingungan melihat kotak yang dipegangnya. Menebak-nebak apa isi kotak ini. Siapa yang mengirimnya, dan untuk tujuan apa?

"Ulang tahun gue kan masih lama," lirihnya sambil membuka bungkusan dari kotak itu.

Tiwi mengambil beberapa lembar foto didalam kotak. Foto dirinya saat berada di bukit dengan cowok aneh itu. Bunga dandelion kering menemani lembaran foto.
Tiwi sedikit tersenyum. Pasti cowok aneh itu. Pikirnya.
Tiwi membalik satu persatu lembaran foto dan membacanya tulisan yang ditulis dengan tinta hitam.

Lembar pertama bertuliskan, "BOLEHKAH."
Lembar kedua, "KU PANGGIL."
Lembar ketiga,"ENGKAU."
Lembar keempat, "SENJA?"

"BOLEHKAH KU PANGGIL ENGKAU SENJA?" Tiwi mengulangi. Senyumnya mengembang.

"Boleh," batin Tiwi.

     Tiwi dan cowok aneh itu memang belum sempat saling memberi tahu nama. Karena memang sudah kesepakatan diawal bertemu. Cowok itu bilang ketika mereka bertemu untuk kedua kalinya, Tiwi akan mengetahui namanya. Entah kapan, dan dimana.

"Tau dari mana alamat rumah gue?" Tanya Tiwi pada dirinya sendiri, "kapan dia ngambil foto gue? hahahaha dasar cowok aneh," Tiwi tertawa mengingat semua keanehan yang dibuat oleh cowok itu.

*******
        

      Beberapa hari setelahnya, Tiwi semakin sering mendapat kiriman. Entah hanya sebatang coklat, atau setangkai bunga mawar putih. Tidak pernah lupa cowok itu menyelipkan selembar kertas berisikan tulisan-tulisan tangannya.  Sering sekali. Tiwi bahkan sudah kehilangan hitungannya sendiri. Tiwi hanya senyum-senyum sendiri melihat keanehan cowok itu. Tiwi ingin sekali bertemu dengan cowok itu lagi. Tapi Tiwi bingung bagaimana cara membalas semua surat dari cowok itu. Tiwi benar-benar tidak tahu siapa nama cowok itu. Hati Tiwi sedikit bergetar. Entah kenapa dia merasa cowok ini yang akan membuatnya jatuh cinta.

     Sore ini, cuaca sedikit nakal. Gerimis kecil yang membasahi aspal. Sabtu yang sedikit aneh. Pikir Tiwi.
Pagi tadi, Tiwi mendapat kiriman lagi. Sedikit berbeda dengan kiriman yang biasanya Tiwi terima. Masih spesial bahkan lebih spesial. Bunga mawar putih, boneka kecil pink dan selembar kertas.

"Jadilah seperti ribuan ilalang yang tumbuh di atas bukit. Sekencang apapun terpaan angin, selama apapun angin itu menerpa, dia hanya akan meliuk-liuk dan kembali berdiri saat angin berhenti,"

Katanya gak tau filosofi ilalang," lirih Tiwi dan tersenyum miring. Tiwi merasa lebih baik saat membaca tulisan itu. Seperti ada dorongan kuat untuk lebih tegar menjalani kehidupannya yang berbeda dengan orang lain. Tiwi selalu berpikir, hidup itu seperti jalan. Kadang dia mulus, beriku, berlubang, dan penuh paku. Tapi Tiwi seperti tidak punya alasan untuk kembali, selain terus melanjutkan hidup tanpa mengeluh. Dan entah kenapa, adanya cowok aneh ini semakin membuat Tiwi benar2 lupa dengan kesedihannya.

      Motivasi-motivasi yang cowok itu kirim lewat tulisan, berhasil membuat Tiwi merasa dihargai walau secara tidak langsung. Berbeda sekali saat masih bersama Zaki yang selalu menuntut waktu dan cemburu pada buku-buku milik Tiwi. Alasan itulah yang membuatnya jengah dan lelah atas hubungannya dengan Zaki.

    Sore yang sedikit basah itu, membawa Tiwi kedalam kafe. Tempat pertama kali Tiwi dan cowok itu bertemu. Dia masih memegangi amplop pink yang dia temukan di kotak surat tadi siang. Di bagian depan amplop itu tertulis bahwa cowok itu meminta Tiwi datang ke kafe. Dan seperti perjanjian di awal, cowok itu akan memberi tahu namanya saat pertemuan yang kedua kalinya.

"Terima kasih ya mbak," Tiwi tersenyum pada pelayan kafe yang meletakan hot cokelat yang sempat dia pesan sebelum dia duduk di kursi kafe. Entah sejak kapan Tiwi menyukai minuman ini. Yang pasti, Tiwi tertarik pada hot cokelat setelah cowok itu memberinya segelas hot cokelat sore itu. Dan itu sedikit membuatnya merasa lebih tenang.

"Ini isinya apa ya," Tiwi membolak-balikan amplop di tangannya.

"Emang kenapa ya kalo gue buka sekarang?" Tiwi kembali bertanya pada dirinya sendiri. Pasalnya Tiwi hanya boleh membuka amplop itu saat cowok itu datang.

    Tiwi sedikit bertanya pada dirinya sendiri, mengapa dia sampai rela datang ke kafe ini hanya untuk memenuhi rasa penasarannya terhadap cowok itu. Tapi dia tidak menepisnya. Membiarkannya dengan rasa sedikit bahagia.

   Tiwi teringat saat cowok itu memperlihatkan foto di dalam kameranya. Yaitu, foto dirinya saat membelakangi kamera. Cowok itu bilang, dia mulai jatuh cinta pada dirinya. Entahlah, Tiwi juga merasakan hal yang sama. Mungkin ini alasan kenapa Tiwi sampai mau repot-repot datang ke kafe ini.

     Tiwi mengedarkan pandangan, melihat pintu kafe yang tertutup tanpa seseorangpun yang masuk. Sudah hampir 20 menit Tiwi duduk di kafe ini. Bahkan minumannyapun sudah hampir setengah gelas, tapi cowok itu belum juga datang. Tiwi masih setia menunggu, hanya membolak-balikan amplop yang dia pegang.

   Satu jam telah berlalu, orang yang datang ke kafe ini sudah hampir belasan orang. Yang lain duduk, yang lainnya keluar. Tapi Tiwi masih tetap di posisi semula. Di kursi pojok menghadap jendela yang langsung menghadap jalanan. Gerimis masih saja berlangsung, Tiwi sudah mulai gelisah. Sabtu benar-benar mulai menyebalkan. Pikir Tiwi. Tiwi benar-benar muak. Tubuhnya mulai lelah karna sendari tadi hanya duduk.

"Kayanya gue di boongin deh," batin Tiwi.

"Bego banget sih gue? mau aja nungguin orang yang gak kenal," Tiwi sedikit mengomeli dirinya sendiri. Merasa terlalu baik percaya pada tulisan-tulisan cowok itu.

   Tiwi keluar dari kafe, memegangi amplop pink yang di pegang. Berniat membuangnya.

"Lo isinya apa sih? bikin penasaran tau gak?" Tiwi mendekatkan amplop pink tepat di depan wajahnya, "buka aja dah yaa."

    Tiwi membuka amplop itu dengan rasa sebal. Dia terlalu bodoh menunggu cowok aneh itu. Tiwi baru saja berpikir bahwa rasa terhadap cowok itu mulai tumbuh, walau hanya dalam diam. Tapi setelah kejadian menunggu ini, Tiwi sedikit kecewa.

     Suara decitan ban dan aspal mengagetkan Tiwi. Suara jeritan dari beberapa pejalan kakipun turut membuat Tiwi melebarkan mata. Suara benturan antara dua bendapun terdengar jelas. Kejadian itu terjadi begitu cepat. Orang-orang mulai berdatangan. Pelayan kafepun ikut keluar untuk menolong. Tiwi hanya terpaku memegang erat amplop yang baru Tiwi buka setengahnya. Menyaksikan seseorang dengan motor besar tersungkur dan tertindih motornya sendiri. Mobil yang datang dari arah berlawanan itupun ringsek dibagian depan. Pengemudi keluar dan menyaksikan orang yang ia tabrak barusan.
Tiwi hanya menggigit bibir bawahnya, matanya masih melebar. Orang-orang mulai mengerubungi lelaki itu. Tiwi membuka amplopnya dengan cepat. Melihat apa isi amplop itu. Membaca kertas yang ada di dalamnya dengan begitu terburu-buru.

"Hai cantik, bolehkah ku panggil engkau senja? Haha bahkan kamu lebih indah dari senja. Tatapan mu lebih indah darinya. Hei senja, bolehkah ku sama kan engkau dengan dia? Gadis cantik yang ku perkenalkan padamu beberapa minggu lalu. Hei cantik, aku mulai mencintaimu. Aku tahu, bahwa kau juga mulai mencintaiku. With love -BILY."

  Tiwi meremas amplop ditangannya. Berlari menghampiri kerubungan orang-orang. Mencari celah untuk memastikan siapa lelaki yang di sedang orang-orang ini tolong. Tiwi hanya terpaku saat seseorang membuka helm yang di pakai sang pengemudi motor. Menutup mulut dengan tangannya. Lelaki itu terlihat tidak sadarkan diri. Wajah tampannya  bercampur dengan darah yang keluar dari pelipisnya.

"Telpon ambulance," titah seseorang pada pengemudi mobil yang menabrak.

"Bily?" Panggil Tiwi disela isakan tangisnya.

********
     2 tahun sudah berlalu. Tiwi sudah menjadi mahasiswa dengan bantuan beasiswa yang ia peroleh saat keluar dari SMA. Usahanya tidak sia-sia, bercinta dengan buku-buku membuatnya cukup puas saat ini. Florist yang di kelola oleh orang tuanyapun sudah mulai membuka cabang di berbagai daerah. Hidup Tiwi berangsur-angsur membaik.

"Tiwi, Mamah mau ngambil bunga dulu, kamu bisa jaga dulu sebentar di bawah?" Suara Mamah Tiwi setelah membuka kenop pintu kamar Tiwi.

"Boleh Mah, nanti Tiwi kebawah." Sahut Tiwi.

"Kamu gak lagi ngapa-ngapain 'kan?" Tanya Mamahnya lagi.

"Engga Mah, Tiwi cuma lagi beres-beres barang yang udah gak kepake. Laci Tiwi udah gak kuat nampungnya." Kekehan keluar dari mulut Tiwi, dengan tangan yang masih meraba-raba kedalam laci.

"Yaudah, Mamah jalan dulu yaah," Mamahnya melambaikan tangan dan menutup pintu.

   Sepeninggalan Mamahnya, Tiwi terus mengumpulkan barang-barang yang sekiranya sudah tidak terpakai. Tiwi menemukan satu kotak pink berukuran sedang. Tiwi membukanya perlahan. Lembaran foto yang sama, dandelion kering, boneka pink kecil, mawar putih kering yang sudah tak putih lagi dan beberapa kertas masih tersimpan rapih didalamnya. Membuat Tiwi mengangkat kedua alisnya bersamaan. Setelah insiden kecelakaan itu, Tiwi tak pernah lagi mendapat kiriman. Seakan lelaki bernama Bily itu benar-benar hilang. Yang Tiwi yakini sampai saat ini adalah, lelaki itu tidak mati, dia pasti akan kembali suatu saat nanti. Tiwi sempat mencari tahu kemana dia pergi, tapi Tiwi tidak pernah menemukannya. Cinta yang Tiwi pendam, masih sama seperti dulu. Masih ia jaga hanya untuk Bily.

    Tiwi tersadar dari lamunannnya, memasukan semua barang-barang yang dia rasa tidak digunakan lagi ke dalam kardus. Bukan untuk dibuang, hanya untuk ia simpan. Kotak yang tadi dia pegang adalah pengecualian. Tiwi ingin kembali membaca kertas-kertas itu.

    Tiwi duduk di meja kasir florist dan meletakan kotak yang dbawanya. Sedikit membenarkan beberapa bunga yang posisinya tidak benar.

"Masih seger aja sih kamu, padahal udah sore" Tiwi menghirup aroma bunga mawar yang di pegangnya, membenarkan posisinya yang sedikit miring.

     Pintu florist terbuka, menandakan seseorang masuk. Tiwi tidak menyadari seseorang telah berdiri beberapa langkah dibelakangnya.

"Saya mau bunganya." Suara berat membuat Tiwi membalikan badan.

"Boleh," sahut Tiwi.

Betapa terkejutnya Tiwi saat melihat seseorang yang berdiri beberapa langkah di hadapannya ini. Lelaki yang memanggilnya senja.

"Bily," lirih Tiwi.

5 Kepompong

Memiliki sahabat yang dari kecil sudah bersama sama , sampai saat ini mereka masih tetap seperti itu, tidak ada yang berubah, saling mengerti satu sama lain, saling mendukung, saling membatu dan lain lainya.
Suatu kebahagiaan tersendiri bagi Ali Devano rasakan.Dia memiliki 4 sahabat di antaranya Holiyah,Euis,Jarrell,dan Nengsih, ke 4 sahabatnya adalah perempuan , tidak masalah bagi Ali kalaupun lelakinya hanya dia sendiri.Bukanya Ali tidak punya teman lelaki , dia punya, hanya saja dia seolah memiliki ikatan yang kuat pada ke 4 perempuan itu sejak kecil, Sehingga Ali lebih nyaman bersama mereka , mungkin juga karena rumah mereka bersebelahan.

Waktu kecil, mereka sering bermain tanah, atau daun daun yang di potong menjadi bahan permainan. Itu adalah permainan yang sangat seru di mana peran Ali, dalam permainan itu, menjadi seorang pedagang sayuran
,Holiyah,Jarrell,Nengsih dan Euis berperan menjadi pembeli layaknya orang yang sudah berumah tangga,mereka bermain sampai baju kotor . Oh  permainan yang langka, yang jarang di temui di jaman sekarang, mungkin anak 90an tau itu permainan apa?.

Seiring berjalanya waktu , mereka menginjak usia dewasa. Kebersamaan mereka tidak ada yang berubah, mereka masih kompak. Meluangkan waktu untuk berkumpul,atau hanya sekedar ngobrol tidak jelas, begadang sampe pagi, kalaupun hampir tiap malam di marahin karena berisik, sudah hal biasa bagi mereka. Buat Ali berkumpul bersana mereka, bisa menghilangkan beban di hatinya,misalnya dia lagi boke, saat keuanganya abis di tanggal tua. Ali mengajak kumpul di antara rumah ke 4 sahabatnya itu , lalu Ali pergi ke dapur rumah mereka, mencari makanan , bukanya di rumah Ali  tidak ada makanan, hanya saja Ali lebih suka numpang makan di rumah sahabatnya itu. Dan orang tua mereka pun sudah mengerti ,tidak sungkan lagi dengan sikap Ali yang seperti itu, seolah Ali sudah di anggap anaknya sendiri.

Namun ada satu hal yang menurut Ali berubah, yaitu perasaanya. Perasaan yang dulu sama sekali belum pernah Ali rasakan , perasaan suka dan nyaman, terkadang rindu yang hampir melanda hatinya setiap hari, rindu terhadap seseorang di antara Ke 4 sahabatnya itu.
Awalnya Ali mengira ini hal yang wajar, mungkin karena mereka sahabatnya sejak kecil, jadi wajar bila Ali merindukan mereka. Namun rasa rindunya hanya tertuju kepada satu orang, rasa rindu yang membuat hatinya merasa bahagia saat mengingat namanya. 
Awalnya Ali tidak mengambil pusing karena hal ini ,namun sikapnya tidak bisa membohongi perasaanya.

" Ali ke sini cepetan ke rumah gue, mau nobar TheConjuring 2 nih." Teriak Nengsih, rumah Nengsih dengan Ali emang terbilang paling dekat, hanya berjarak beberapa Meter saja 

" Ada siapa aja di situ ? " saut Ali

" Holiyah,Jarrell dan Euis," nama yang terahir di sebutkan Nengsih , membuat Ali sontak langsung bersemangat, entahlah Ali tidak mengerti ,
" Ok gue ke situ bentar,ganti baju dulu." Ali sempat berpikir kenapa ahir ahir ini, dia ingin terlihat ganteng di depan Euis,padahal biasanya dia tampilan acak adul , celana robek robek, rambut kucel,jarang sampoan bahkan mengurus ketiakpun jarang dia lakukan, Jarrell sering mengomelinya bila Ali bau keringat ,namun Ali tidak menghiraukanya.
Tapi saat ada getaran di dalam hatinya,yang meneriaki nama Euis, seolah merubah Ali. Ali yang tadinya jorok tidak mau mengurus badan ,jadi ingin terlihat bersih, rapih dan ganteng. Sebenarnya Ali memiliki tekstur wajah yang bagus, hidung mancung,bibir tipis kemerah merahan karena Ali tidak merokok, mata hitam bulat,dan alis yang kekar, seolah dia memiliki keturunan Arab, padahal Ayah dan Ibunya asli orang Sunda, Bogor,Jawa Barat.

Mungkinkah ini yang namanya cinta pikir Ali saat bercermin. Cinta yang berbeda selain cinta kepada sahabat , entahlah Ali masih tidak mengerti. Di tambah di umurnya yang menginjak 20 taun, dia belum pernah berpacaran. Ali terlalu sibuk bekerja, menurutnya tidak ada waktu untuk melakukan hal hal itu. Wajahnya yang rupawan tidak jarang ada perempuan yang ingin berkenalan dengan Ali , setiap ada wanita yang menghubunginya, menanyakan sudah punya pacar atau belum? Ali selalu menjawab, " Punya , pacar ku ada 4. " sontak perempuan tersebut menghindar,dia mengira Ali cowo playboy, lalu memutuskan untuk menjauhi Ali. Nama Jarrell, Holiyah,Euis dan Nengsih selalu di jadikan alasan. Menurut Ali pacaran itu ribet, harus memberi perhatian setiap hari, memberi kabar hampir tiap jam,harus sabar saat sedang marahan , dia tau dari teman teman kerjanya, dan mereka banyak yang galau, tidak fokus karena pacarnya, saat ulang taun pacarnya mereka harus memberikan kado yang  spesial, intinya pacar itu harus di bahagiakan dengan cara apapun. Dan itulah yang di sebut cinta sejati kata mereka.  Berbeda dengan Ali , Ali hanya ingin membahagiakan orang tuanya, dari pada membahagiakan anak orang yang belum tentu jodohnya. Bagi Ali selagi ada 4 perempuan yang selalu menemani, dan memperhatikanya dalam keadaan sedih atau senang, Ali tidak butuh pacar di kehidupanya.

" Nyuk besok kerja gue nebeng yah." kata Holiyah di selasela obrolan mereka malam ini,
sudah hal yang harus mereka lakukan, yaitu berkumpul di malam minggu. Kumpulan 'para jones', julukan tetangga untuk mereka.
" Nebeng mulu ,motor elu belum di perbaiki emang? " ujar Ali , sambil melirik ke arah Euis yang sibuk ngobrol dengan Jarrell.
" Belom , banyak perbaikan katanya , rusaknya terlalu parah. "
" Lagian lu kalau gak bisa bawa motor, mending berangkat kerjanya  ngesot aja. Kan kasian motor baru, langsung di bawa nyungsep ke got. " semprot Ali, memang benar kemaren holiyah sempat kecelakaan , motor yang baru saja di beli orang tuanya, langsung di bawa musibah , dan itu kejadian yang sangat menyebalkan bagi Holiyah.

" Bisa gak sih lu gak usah bahas itu Li iiih nyebelin deeh, " Holiyah menjitak Ali karena perkataanya, mengingatkan kejadian memalukan kemaren,

" Oh iyah Li besok kerja, gue bareng lu lagi yah." saut Euis , Ali langsung menoleh ke arah Euis. " Ayo, jam 10 kan seperti biasa ?" ujar Ali " Sekalian gue juga yah Li, gk apa apa semotor bertiga,kan searah." Holiyah memohon.

" Taraaa kita main LUDOKING lagi sekarng , yang kalah harus coret mukanya pake ini. " Nengsih memecahkan perseteruan gak penting di antara mereka.

" Ini apaan sih item item gini ? " tanya Jarrell sambil mencolek colek bubuk hitam di mangkok,
" Ini arang haha pokonya yang kalah harus di coret mukanya pakai ini."

Permainan di mulai, mereka memilih warna sesuai warna yang tertera di dalam Game tersebut. Beberapa menit kemudian  mereka terhanyut dalam Game itu, sesekali mereka tertawa terbahak bahak, saat mencoret coret wajah mereka yang kalah.
Permainan terus berlanjut kini saatnya Ali mencoret wajah Euis. Ada getaran yang sangat dasyat dalam hati Ali, saat tanganya berjarak beberapa senti dari wajah Euis.Ali mematung,  Ali hanya memandangi wajah cantik Euis. 
" Elu liat apaan sih ? cepetan coret muka gue." ujar Euis membuyarkan lamunan Ali. 
" Haha udah gak ada tempat nyuk buat nyoret muka elu, " jawab Ali beralesan, setelah kesadaranya kembali,
" Ya udah sebelah sini aja, dekat hidung gk apa apa." Euis menyerahkan diri karena dia kalah dalam permainan tersebut. Jantung Ali kembali berdetuk lebih kencang, saat tangan Ali menyentuh sela sela hidung Euis yang mancung ,memakai jari telunjuknya, lalu meninggalkan bekas arang hitam di sana. Membuat jantungnya berdetak tak karuan, mungkin Euis tidak menyadarinya bahwa Ali salting.

Hari hari berikutnya, perasan Ali sulit sekali untuk di baca atau di mengerti , apa lagi di pahami, Ali sempat berpikir ini hal yang wajar bagi dirinya, mungkin karena masa pubernya.

Ada rasa bahagia yang terselip saat mengingat, dan melihat poto poto mereka ber 5. Pandanganya tidak luput dari Euis, yang tersenyum manis saat berpose bersama , Ali ingin sekali berbicara kepada Euis bahwa Ali merindukanya , tapi Ali sadar posisinya sebagai sahabat terbaik Euis, dan itu sedikit membuat perasaan Ali terasa sakit.
Apa lagi mengingat perubahan sikapnya , cuman Ali yang menanggung, tanpa dia ceritakan kepada sahabatnya yang lain.

Waktu semakin berjalan,perasaanya terhadap Euis tidak karuan,hampir tiap hari Ali merindukan Euis. Nama Euis selalu menghantui Ali setiap malam ,sehingga tidur Ali ahir ahir ini tidak nyenyak, karena rasa gundah dan gelisah di campur rasa rindu, membuat Ali susah untuk terlelap.
Ahirnya Ali ingin berbagi,keluh kesah dalam hatinya kepada sahabatnya yang lain.
" Halo Jarell, udh balik kerja belum? "
" Iyah Li , belum bentar lagi , ada apa ? " jawab Jarrell di sebrang sana.
" Kalau udh balik, temui gue di Ritzek'y Sentul Nirwana oke , gue udh di sini jangan pake lama."
" Ada apa ? Gue ada ac...." tututut sambungan telpon terputus.

15 menit kemudian.
" Dasar kamvret gue ada acara, ngapain sih segala ngajak ketemu? " semprot Jarrell saat sudah sampai di lokasi yang Ali maksud. Jarrel berdecak sebal karena permintaan Ali acaranya di gagalkan,karena Jarrel lebih mengharagai temanya ini. 
" Hehe..." Ali hanya menyengir garing, tidak merasa bersalah atas apa yang dia lakukan ,lalu di sambut dengan jitakan di atas kepalanya.
" Aw.......duduk dulu napah ? " pinta Ali kepada Jarrell.
" Rell gue mau curhat dikit aja , dikit seriusan gak banyak banyak ko."
" Bnyak juga gk apa apa, terlanjur, acara gue udah gue batalin." Jarell berdecak sebal,mungkin karena efek dia baru pulang kerja, rasa cape dan lelah masih dia Jarrell rasakan.
" Acara apaan sih? so sibuk amat. "
" Acara kondangan aliiiiiii, temen pabrik gue hari ini nikah langsung 3 orang , gilakan makin sepi aja Karyawan di pabrik, karena propesi mereka berubah jadi ibu ibu rumah tangga. Ya udh gue nitip kado untuk mereka ke Giana aja ,kebetulan dia berangkat bareng Fatnernya, garagara elu....tapi gue bersukur juga sih hehe , soalnya kalaupun gue dateng ,kadang merasa sebal, pasti adaaaaaa aja yang bilang 'kapan nyusul' kan bete gue , belom ada jawaban buat pertanyaan itu. Kalau ada yang ngomong kaya gitu , gue suka bales suatu saat nanti ,kalau ada yang meninggal baru deh gue yang bilang ke mereka ' kapan nyusul' hahah mampus dah. "
" Looh ko jadi elu yang curhat sih. " Ali mendengus kesal, bukanya Ali yang mau curhat, tapi malah Jarrell yang bicara panjang lebar.
" Hehe , ya udh elu mau ngomong apa? " tanya Jarrel ahirnya .
Ali mengumpulkan kata kata yang pas untuk di bicarakan , yang bisa di mengerti oleh Jarrell, karena Ali tau, Jarrell sedikit lemot tapi dia pemberi saran yang baik, di antara sahabatnya yang lainya.
" Rell kayanya ada yang aneh, sama perasaan gue sebulan terahir ini......Gue merasa sedang..... Jatuh Cinta." Jarrell terbelalak, curhatan yang langka buat Jarrel dengar dari mulut Ali , biasanya dia curhat bila ada masalah dengan teman kerjanya, atau yang lain, misal minjam uang kalau dia belum gajian,cerita soal cewek yang ngejar ngejar dia.
Ali belum pernah curhat tentang perasanya,Jarrell menyelipkan rambut ke belakang telinga ingin mendengar lebih jelas. 
" Setiap kali kumpul, selalu ada getaran aneh dalam hati gue Rel, kaya ada semacem taman bunga terus bunganya bermekaran, intinya gue bahagia. Hampir tiap hari gue merindukanya." Lanjut Ali , dengan pertemuan nya yang hanya berdua tanpa yang lain Jarrell berpikir aneh aneh. 
" Jangan sampai lu suka sama gue, jangan sampe deeeh." Kata Jarel becanda seolah orang di sukai Ali adalah dirinya.
" Kamvret dengerin dulu sampe selesai napa? Males juga gue jatuh cints ke elu, amit amit. " Jarrell hanya tertawa.
" Oke lanjut."
" Tapi ada yang aneh lagi Rel. Di balik rasa bahagia gue, ada rasa sakit yang amat sangat gue rasain , karena orang yang gue suka itu sahabat gue sendiri, jadi gue yakin dia gak bakalan nerima gue, kalau gue nembak dia." sedikit lega untuk Ali rasakan, setelah mencurahkan semua yang mengganjal dalam hatinya, selama sebulan ini kepada Jarrell,
" Kumpul bersama..karena dia sahabat gue,tunggu tunggu tunggu, jadi cewek yang elu maksud itu ada di antara Holiyah,Euis ,Neng dan gueee ... Sumpah kalau elu seriusan suka sama gue, gue gak bakalan nerima eluu." Jawab Jarrel dengan pedenya , Ali mendengus kesal.
"Bukan elu kamvret tapi....Euis , gue suka sama dia Rell." Jarrell sedikit kaget dan tidak percaya saat Ali mengucapkan nama Euis. Euis yang jadi sahabatnya sejak kecil , sontak Jarrell memukul meja.
" Haah Euis.... jangan sampe jangan sampe jangaan sampeeeeeeee, pokonya jangan sampe elu ngungkapin semua perasaan lu ke diaaaaa. " kata Jarrell menolak.
" Laah memangnya kenapa ? Gue cowok dia cewek gak ada yang salahkan! "
" Masalahnya bukaan cewe atau cowok,  masalahnya Euis.  Euis udah nganggep elu sahabat , dan Euis anggap elu udah kaya kakanya sendiri." Ali merunduk, sudah di yakinkan Ali sedari kemaren, bahwa tidak mungkin bisa mengungkapan perasaanya ke pada Euis , dan perkataan Jarrell malam ini  memukul hatinya.
" Misal elu memberi tau Euis soal perasan lu. Euis pasti gak kalah kagetnya kaya gue , dan Euis gak mungkin nerima elu , karena apa ? karena dia udah menyukai cowok laiin, dan cowok itu temen kerjanya , dan  mereka sudah saling mengenal sekarng. Euis sudah beberapa bulan memperhatikan cowo itu , semalam aja dia bilang ke gue, kalau mereka baru aja jadian. Rasa bahagianya pun dia bagi bagi ke gue ,Euis ceritakan semuanya ke gue , dan terbukti rasa bahagianya sangat terpancar di wajahnya, gue bisa mengerti itu." Jarrell terus menekankan setiap perkatanyanya, untuk menyadarkan Ali. Bahwa mencintai Euis adalah kesalahan terbesarnya. Ali hanya terdiam seolah perkataan Jarrel terus saja memukul hatinya. "Gue takut Li.....takut persahabtan kita, yang di bangun sejak kecil hancur begitu saja. Garagara ungkapan cinta elu ke Euis , pasti Euis merasa tidak enak ke elu, karena dia menolak dan ahirnya persahabatan kita hambar. Pasti berbeda rasanya gak kaya dulu lagi." Perasaan Ali semakin terpukul dengan kata kata jarrell yang kesekian kalinya ,

" Gue tau, itu sakit buat lu rasain Li. Bukanya gue cemburu atau apa soal hal ini ,gue hanya takuut, takut ada perubahan di antara persahabatan kita, setelah elu mengungkapkan perasaan ke Euis......Elu sayang sama Euis? asal lu tau ? Euis juga sayang sama elu, tapi sebagai sahabatan.Apa itu tidak cukup ? Untuk membalas perasaan lu.?" Lanjut Jarrell. 
" Sekarang gue minta kita tetap seperti ini. Seolah tidak ada kejadian apapun, gue bakal menyimpan rahasia ini rapat rapat." jelas Jarrell.
" Kenapa penjelasan elu sangat sakit buat gue rasain Rell ? " tatapan Ali menerawang ke jalanan Sentul Nirwana. Hujan yang 3 menit lalu turun , seolah menggambarkan perasaan Ali. Ali pikir cuman hanya perempuan saja, yang menangis saat perasaanya tidak terbalas tapi ! seorang lelakipun bisa. Dan mencintai Euis adalah kesalahan terbesar nya .Jarrell tidak tega saat melihat  mata Ali berkaca kaca.
" Maapin gue, bukanya gue mau nambah rasa sakit di hati lu , tapi gue hanya menyediakan payung sebelum hujan. Mencegah kejadian yang bakal merubah kebersamaan kita menjadi terpceah belah, gue takut Euis menjauh, dan menghindar karena merasa tidak enak ke elu, karena sudah menolak perasaan elu.. Gue minta tetap lah seperti ini okey." Ujar Jarrell lirih seolah mengerti perasaan Ali.
" Lagian bukanya elu sendiri yang bilang, pacaran itu tidak terlalu penting buat lu Li. Yang paling penting dalam hidup lu adalah pekerjan, karena cita cita lu menjadi orang sukses, lalu membahagiakan kedua orang tua lu. Sekarng pokus saja ke cita cita elu , kalau elu udah sukses dan mapan ,wanita yang cantikpun bakal gampang elu dapetin. Dan gue yakin, perasaan lu pada Euis sedikit demi sedikit bakal hilang, kalaupun sulit...Tetap lah seperti ini,seolah tidak terjadi apa apa, Euis tidak ke mana mana ko dia selalu ada bareng kita." Penjelasan Jarrell yang terahir sedikit membuat perasaan Ali membaik. Iyah Ali  bercita cita menjadi orang sukses dan mapan , dia ingin sekali meberangkatkan kedua orang tuanya untuk Ibadah Haji ke Mekkah. 

" Iyah Rell gue mengerti sekarang ? Kalau gue mengungkapkan perasaan ini ke Euis , seolah olah gue merusak persahabatan kita , dan gue gak mau persahabatan kita hancur cuman karena perasaan gue. Egois memang kalau gue sampai lakuin itu, gue hanya berpikir tentang perasaan gue doang tanpa berpikir perasaan yang lain." Jarrell menyodorkan air Aqua, menyuruh Ali untuk meminum. Untuk  menambah perasaan Ali menjadi lebih baik setelah minum. Karena Jarrell tau Air punya peran penting dalam tubuh manusia , salah satunya melancarkan aliran darah ke dalam sel sel otak, sehingga manusia tidak terlalu banyak pikiran.

Ali meneguk sampai habis,
" Udah merasa lebih baik hm ?" tanya Jarrell
" Entahlah. " jawab Ali
" Ya sudah ini udah malam, gue mau pulang ,takut Enya dan Babeh gue nyariin." Jarrell meninggalkan Ali yang masih menatap jalanan , tatapanya sangat kosong. Sebenarnya Jarrell merasa bersalah telah mengatakan kata kata yang membuat Ali merasa semakin sakit, Jarrell terlalu takut persahabatan di antara mereka berubah jadi Jarrell tidak ada cara lain  untuk melindungi kebersamaan mereka. 

Jumat, 06 April 2018

Zona nyaman

Siapa yang suka ? saat Zona nyaman seseorang telah di rusak, menjadi  berantakan karena pikiran yang tidak karuan!  Zona nyaman yang di bangun dengan hati yang kuat, supaya perasaannya terjaga dengan baik , terjaga dari lelaki yang sering melontarkan gombalan gombalan yang mengajaknya pacaran. Dia Soffia Zahra ,perempuan yang memiliki Zona nyaman tersebut, Sofi memilih memperbanyak teman dari pada pacar, bukanya Sofi tidak ada yang mau,hanya saja, dia lebih menjaga hatinya, supaya tidak gampang di sakiti, Sofie tau, banyak sekali efek samping yang terkandung dalam pacaran , ribet juga harus memberi kabar tiap hari, menanyakan sudah makan atau belum? atau menanyakan lagi apa? pertanyaan itu hampir tiap hari di bicarakan, oleh orang orang berpacaran, bukanya itu membosankan pikir Sofie , yah buat Sofie bahagia yang hakiki cuman ada dua, yaitu  memiliki orang tua yang baik dan sahabat yang baik, keberadaan  mereka di kehidupan Sofi memberi rasa nyaman dalam hidupnya, bukanya Sofi belum pernah pacaran, dia pernah, namun selama 1 taun ini dia lebih memilih menjaga hatinya . Dan malam ini rasa nyaman yang dia bangun selama 1 taun ini, di rusak oleh kedatangan seorang lelaki ke rumahnya.

" Saya Ali Devano Pak saya ke sini untuk meminta ijin Bapak...saya ingin menikahi Sofi. "
Lelaki yang tidak pernah di kenal Sofi, secara tiba tiba melamarnya, di hadapan Pak Ahmad Dahlan ayah sofie dan juga Ibunya Fatma Dahlan, tidak ada awan mendung apa lagi hujan, yang ada hanya bintang dan bulan, menghiasai langit malam,namun, Sofie merasa di sambar petir di malam hari, Sofi mematung, ada yang mengajak pacaranpun dia berhati hati, tapi ini mengajaknya menikah dengan orang yang sama sekali tidak Sofi kenal.

" Saya asli Bandung Pak, dan saya berkerja sebagi Guru di Mts Al Hidayah , saya cuman ingin bersilaturahmi dengan keluarga ini, terutama dengan Sofi, " jawab Ali yang kesekian kali nya saat Pak Ahmad terus melontarkan pertanyaan ,Sofi masih mematung pikiranya melayang entah ke mana  

" Hmmm...kalau begitu Bapak mengijinkanya, kalau memang itu niat baik untuk bersilaturahmi." Pak Ahmad langsung memberi ijin karena setatus Ali sebagi guru sekolah sudah pasti dia laki laki baik dan benar pikir Pak Ahmad, 

Entah perasaan haru atau seperti apa? yang di rasakan Sofi saat ayahnya mengijinkan lelaki itu bersilaturami denganya , perasaan yang terus berbisik di dalam hatinya ,entah seperti apa? bagi Sofi ini sulit di artikan , bahagia ? atau sedih ? .

" Ayah boleh saya ke kamar sebentar ?" Sofi memilih untuk menghindar dari obrolan mereka tanpa Sofi memberi jawaban 'iya' atau 'tidak' 

Setelah Ali pamit pulang ,Pak Ahmad sepertinya bahagia, ada senyuman yang di pancarkan dari orang tua Sofi, mungkin mereka senang, ada seorang lelaki yang sudah siap untuk menjaga Sofi setelah Pak Ahmad, berbeda dengan perasaan Sofi tidak ada senyuman, tidak ada rasa bahagia,yang ada perasaanya seperti di aduk aduk, rasanya petir mash menyambar dirinya, kalaupun Propesi Ali sebagi guru sudah di yakinkan bakal menjamin kehidupa Sofi menjadi lebih baik, tetap saja hatinya ingin berteriak, yang jadi permasalahnya Sofie sama sekali belum pernah, memikirkan soal pernikahan, bahkan pacaranpun dia tidak membutuhkan itu, Sofi terlalu nyaman tanpa itu semua , kedatangan Ali kerumahnya seketika meruntuhkan Zona nyamanya , pikiranya di liputi rasa bingbang, antara menerima atau menolak.
Tidak mampu lagi untuk menahan rasa gemuruh di hatinya, ahinya Sofie memilih menangis,  karena tidak ada jawaban dan respon dari perasaanya.

Ibu Fatma yang mendengar isak tangis anaknya, menghampiri Sofie ke kamar ,
" Ibu tau kamu belum pernah memikirkan hal ini ,tapi Ibu yakin dia memang jodohmu, cobalah belajar menerima kehadiranya , Ali pasti bisa membahagiakan kamu di masa depan," tanganya mengusap rambut sofi dengan sayang " Sofie sudah bahagia seperti ini Bu, " jawab Sofi lirih

 " Apa kamu akan terus terusan seperti ini ? bermain dengan teman teman mu tanpa tau waktu pulang , sudah saatnya kamu berubah menjadi Wanita dewasa....coba Ibu tanya berapa umur mu sekrang hm ? " 

" 20 taun," jawab Sofi sesekali dia mengusap air matanya yang sedari tadi tidak mau berhenti,
" Ibu mengurusmu selama 20 taun....dan sekarang! waktunya kamu harus hidup mandiri tanpa Ibu , melakukan semua kewajiban sebagi wanita, yaitu di awali dengan Pernikahan , jangan berpikir hidup hanya  bermain saja, " ini seolah tamparan keras untuk Sofi yang hanya berpikir soal kenyamanan , Sofi tidak pernah berpikir tentang hal ini, memang bermain bersama teman temanya, sudah hal yang biasa, dan itu terlalu sering Sofi lakukan, tanpa Sofi berpikir bahwa waktu semakin berjalan ." Baiklah kalau memang Ali berniat menikahi ku tidak ada salahnya aku menerimanya , kalaupun sekarang ... Perasaan ku masih bingbang ..Ibu. "

" Ibu akan mendoakan yang terbaik untuk mu...Sebelum Ali pulang, tadi dia sempat meminta no ponsel mu ,bila dia menghubungi kamu, cobalah respon dengan baik " Sofie hanya menganggup tanda mengerti

Setelah Sofi mencurahkan semuanya kepada Dela, sahabat terbaiknya, tentang kegundahan, dan kebingbanganya, lewat telvon ahirnya perasaan Sofi sedikit membaik berkat saran dan keyakinan dari sahabatnya,

~~

 3 hari berlalu semenjak Ali datang kerumah Sofi,  Sofi terus memperhatikan ponselnya,namun ada yang aneh! Ali masih saja tidak menghubungi Sofi, padahal Ibunya memberi no ponsel Sofi, Sofi sempat berpikir 'apa mungkin no yang Ibu kash salah' sudah lama Sofi tidak melakukan hal ini, menunggu seseorang untuk menghubunginya.

Sofi sempat berpikir negatif ' apa mungkin dia, hanya  main main dengan semua ini,kalau memang iya ini sangat tidak lucu ' perasaan Sofi semakin, tidak karuan, banyak sekali pertanyaan yang harus Sofi lontarkan, kepada Ali,karena di pertemuan 3 hari yang lalu Sofi terlalu banyak diam bahkan menatap wajah Ali pun tidak mau ,Sofi terlalu syok waktu itu, 'kenapa dia langsung datang kepada ayah?' Sepengetahuan Sofi ahir ahir ini, dia tidak dekat dengan lelaki manapun, dan  nama 'Ali devano' itu sangat asing buat Sofi , 

Sekarang tidak ada rasa nyaman lagi di kehidupan Sofi , Sofi terhanyut dalam pikiranya, mungkin Ibunya benar, sudah saatnya Sofi berpikir banyak soal hidupnya, karena Sofi hanya berpikir, soal kenyamanan yang di rasakanya. Nada dering ponsel berirama, di sekeliling ruangan kamar Sofi, segera Sofi menyambar benda itu, tidak ada nama yang tertera di layar Hpnya yang ada hanya no baru ,

" Halo, " 
" Halo, " jawab lelaki di sebrang sana ,dengan nada yang sedikit lembut ,
" Apa ini Sofi? " tanya lelaki itu lagi,
" Iyah saya sendiri, " jawab Sofi dengan manis
" Sendirian aja boleh aku temenin.." Sontak Sofi yang tadinya, berusaha ramah menjadi sebal, Sofi tidak suka gombalan , mungkin ini bukan seperti gomblan, tapi bagi Sofi pertanyaan seperti ini sangat risih dia dengar, 
" Heh !!  ini siapa ?? " tanya Sofi judes,
" Haha Sofi ini aku Ali Devano," deg hati Sofi yang tadinya memanas, merasa di gombalin, seketika berubah menjadi lemas 'ini Ali , Ali yang mengajak ku untuk menikah , dan dia,yang merusak Zona nyaman ku ' Sofi berusaha rileks .
" Hai .. " Entah itu sapaan seperti apa, yang jelas sekarng Sofi harus mempertimbangkan semuanya ,
" Hai.. Apa kamu baik baik aja, " bila ingin jujur Sofi ingin sekali meneriakinya, bahwa dia banyak pikiran, dan itu tidak baik baik saja tentunya ,
" Iyah aku baik baik aja " Sofi berusaha untuk tidak keceplosan ,
" Ya sudah aku tutup  yah sampai nanti "
Tuut tuut
Sofi ternganga tidak percaya, percakapan pertamanya dengan Ali , membuat Sofi sebal , ' sesingkat itu kah wah wah '

~~

Hari hari semakin berlalu, Sofi tidak tahan dengan sikap Ali yang cuek , menghubunginya ckup menanyakn 'apa kah Sofi baik baik saja ' Ali tidak pernah menanyakan, apakah Sofi menerina lamaranya? atau yang lainya, layak seorang lelaki yang memberi perhatian kepada calon istrinya '  perasaan Sofi semakin acak kadul, dia merasa di permainkan dengan semuanya,

Siang yang panas ini, Sofi berniat untuk menemui Dela, dia ingin  mencurahkan semua unek unek dalam hatinya kepada Dela membagikan semua keluh kesah yang di rasakan kepada sahabatnya. 
Jalanan Bojong Koneng sedikit macet, karena banyak mobil peribadi yang lewat jalan ini, mungkin karena di Bojong Koneng banyak tempat wisata, seperti Curug Bidadari dan yg lainya,sehingga hampir tiap hari Wekeend jalanan ini macet , dengan rasa sabar ahirnya Sofi bisa melewati kemacetan jalan itu

" Bi Delanya ada ? " tanya Sofi kepada Bi Karsih Ibunya Dela,
" Ada dia kewarung depan, Bibi suruh dia, beli sabun, sebentar lagi pulang ko , duduk aja dlu" jawab Bi Karsih ,
" Eh Sofi... " Kata Bi Cacoh penjual seblak rumahnya berjarak beberapa senti saja, dari rumah Dela lebih tepatnya bersebelahan , Sofi hanya menjawab dengan senyuman, karena Sofi tau, setiap Sofi main ke rumh Dela, Bi Cacoh sering ngomong ngelantur , lebih jelasnya suka menyindir sttus jomlonya, kali ini Sofi tidak ingin mendengar omongan Bi Cacoh, karena mood nya tidak baik
" Sofi tau gak ? si Bety anaknya Mang Tatang mau nikah , di undang gak ? " celetuk Bi Cacoh tangannya sibuk membuat seblak ,namun dia sempatkan berbicara untuk menyerang Sofi , sebenarnya Sofi males untuk menjawab pertanyaan Bi Cacoh, karena permasalahanya dengan Ali, sampai dia banyak pikiran ,namun dia tidak ingin terlihat  mumet ,
" Gak tau, " jawab Sofi malas,
" Ooh kirain Bibi kamu tau ,bukanya s bety teman sekolah SMP mu?  Bety mau nikah , Sofi kapan nikah? jangan kelamaan jomlo nanti nikahnya keburu tua," serangan pertama dari Bi Cacoh, 
" Jomlo juga yang penting seneng Bi, "
Sofi berharap Dela segera datng untuk menyelamtkan dirinya , sebelum Bi Cacoh menyerangnya terlalu jauh
" Yang seneng itu nikah, terus punya anak, kapan nikah hayoo?, " serangan kedua ingin rasanya Sofi menelan Bi Cacoh bulat bulat , sejujurnya perkataan itu, sudah berapa kali masuk ke telinga Sofi , Sofi menjuluki perktaanya itu sebagai kata kata yang paling horor ,karena sama sekali tidak ada jawaban untuk pertanyaan  ' kapan nikah ' terkadang Sofi ingin sekali pindah ke London, untuk menghindari pertanyaan itu, karena menurut Sofi pertanyaan itu sering di ucapkan, oleh orang orang indonesia saja. 
Namun, kali ini sopi seolah mendapatkan jawaban, dari pertanyaan itu saat nama Ali Devano muncul di pikiranya .
" Bentar lagi bi tunggu aja, "
" Waah bukanya kamu jomlo Fi ? " serangan yang kesekian kalinya , Sofi tau Bi Cacoh hanya becanda tapi tetap saja dia merasa risih , nama Ali devano terus meyakinkan untuk menjawan pertanyaan Bi Cacoh kali ini, " Lah kata siapa Bi ? " jawan Sofi enteng,           " Kata Bibi barusan hehe , ya udah ini seblaknya sudah jadi," kata Bi Cacoh sambil menyodorkan semangkuk seblak,
"Laah siapa yang pesen Bi ? "
" Loh tadi bukanya bilang seblaknya satu gak pake sawi," Sofi mash heran dia sama sekali tidak memesan seblak,
" Udah Fi ambil aja nanti gue yang bayar " saut Dela yang entah sejak kapan berada di dekat pintu,
" Lama amat sih Del , warung deket juga, lu ngesot apa jalan sh? " kata Sofi sedikit jengkel, karena membuatnya menunggu sedikit lama dan ahirnya dia di serang Bi Cacoh , 

" Gue jalan sambil ngesot... Haha ya udh masuk yu  disini panas, " Sofi mengekori Dela

" Jadi gimana Fi hubungan elu sama Ali ? " tanya Dela

" Gue bingung Del, sikapnya aneh, cuek dia sperti tidak peduli... Tapi ada yang aneh sama sikap gue ? "
" Apa tuh ? "
" Selama seminggu ini, gue merasa....Sepenuhnya menerima dia, tapi....Gue kesel dengan sikapnya, yang cuek  seolah minta di perjuangin , kan harusnya gue yang di perjuangin sebagi wanita,"

" Berjuang sama sama lebih baik Fi,dari pada berjuang sebelah pihak doang , coba deh sekarang lu hubungi dia, "
" Gak deh nunggu dia aja duluan, "
" Yaah itu namanya berjuang sebelah pihak, "
" Gue takut Del.. Takut dia  becanda, takut cuma mau mempermainkan gue , makanya gue antusias buat menghubungi dia duluan ,"
" Kalau dia niat main main, kenapa juga dia datang ke Ayah lu Fi, "
" Entahlah kalau memang benar dia  becanda ,main main dengan semuanya, dia hrus tanggung jawab gara gara dia Zona nyaman gue hancur , gue jadi banyak pikiran kesana kemari , lu tau sendirikan Del pernikahan itu buka hal yang harus di becandain, makanya harus di pikir matang matang," 

~~
Hari hari berikutnya sikap Ali mash sama,
" Ya sudah kalau kamu baik baik saja , aku tutup yah telponya " tuut tuut
Namun ada yang aneh dengan hati Sofi, seiring berjalanya waktu, hati Sofi semakin terbuka, untuk mempersilahkan Ali masuk , setelah sekian lama Sofi menutupnya, dan menjaganya selama satu taun 

~~

3 minggu kemudian, Sofi semakin gregret, dengan sikap Ali yang tidak berubah dari awal,
rasa ego yng di miliki Sofi cukup tinggi, Sofi tidak mau menghubungi Ali duluan , entahlah Sofi rasa, itu terlalu murahan, kalaupun perasanya sudah menerima keberadaan Ali.

~~

Hari ini rasa penasaranya semakin besar, banyak sekali pertanyaan pertanyaan yang harus Ali jawab, ahirnya Sofi menghubungi Ali sekuat tenaga dia melawan ego, Sofi tidak bisa berlama lama menunggu ,sebelum perasaannya bermain dengan Ali terlalu jauh , selama 3 minggu ini Ali tidak lagi datang ke rumah Sofi, bahkan Ayahnya pun tidak lagi menanyakan hubungan Sofi dengan Ali , Sofi pikir ayahnya kerja sama dengan Ali, lalu mereka bertemu diam diam , untuk apa?

Sofi mengetik nama ' Ali ' di kontak ponselnya
lalu menghubungi no kontak itu,
" Halo,"
" Iyah, " jawab Ali di sebrang sana
" Bisa ketemu sekarng? di Ritzek'y Sentul Nirwana,"
" Hmm tentu saja, " tututut
sikap cuek Ali masih sama, Sofi membuletkan pikiranya dari skarng, antara mengahirinya atau mempertahankanya.

Sore ini pukul 15.00 Sofi duduk menghadap Ali, ini pertama kalinya Sofi melihat Ali dengan jelas setelah pertemuan pertamanya terahir kali,
wajah yang bersih ,hidung mancung, bibir tipis mata bulat hitam, di hiasi alis yang tebal,dan  Ali memakai seragam Guru yang khas  dan name tag di kantung baju kananya ' Ali Devano' Sofi terlihat seperti mau belajar les frivat ' sial kenapa dia sangat gagah memakai seragam itu  ' batin sofi , Sofi mash terpana dengan pemandangan itu
setelah jeda beberapa menit
" Jadi ada perlu apa kita ketemu di sini ? " tanya Ali ahirnya memecahkan keheningan di antara mereka berdua,
"T t tidak ada....Ah maskudnya banyak hal yang harus aku omongin, " Sofi sedikit grogi 'sialan ada apa dengan sikap gue ' Sofi menyalahkan sipat groginya,
" Jadi sebnarnya,kamu serius gak sh dengan hubungan ini ? " satu pertanyaan ahirnya di lontarkan, masih banyak pertanyaan yang mengantri untuk di ucapkan di atas kelapa Sofi ,
" Hubungan ? maksudmu hubungan yang mana?" Jawabnya yang sangat menyebalkan buat Sofi ' yah jelas hubungan kita memang ada berapa hubungan di anatar kita ' batin Sofi kesekoan kalinya
" Iyah maksudku hubungan kita, bukanya 3 minggu yang lalu, kamu datang kerumah dan... Ah begitulah , dan aku rasa seperti di permainkan oleh sikap mu yang cuek itu, "
Ali menatap Sofi lekat lekat ' sial sial ada apa  dengan jantung gue ? kenapa gak karuan begini! ya ampun, ok rileks ini bukan pertama kalinya gue di tatap oleh cowo ganteng ' batin Sofi 
" Jadii ? " 
" Jadi apa ? " ujar Sofi tidak mengerti,
" Hmm , aku mau bertanya sesuatu pada mu ? " Ali mendekatkan jaraknya , 
Sofi menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, takut dia salah dengar,
" Hmmm....mau kah kau menikah dengan ku?" Ucapnya sambil menatap Sofi tanpa berkedip, mungkin Ali bisa tau kalau Sofi lagi shok dan kaget , hening 1 detik 2 detik sampe 10 detik Sofi tidak menjawab seolah dia sambar petir yang kesekian kalinya , wajah Sofi tiba tiba memerah, seperti bunga mawar yang baru saja mekar, dia masih mematung tidak percaya dengan pertanyaan Ali barusan 'ohshit dia melamar gue '
" Sejujurnya aku sudah mengenal mu setaun yang lalu, semenjak pertemuan di mall BTM oh,  bukan pertemuan itu hanya sekilas, tapi memiliki arti yang dalam,  dan pada saat itu aku selalu memperhatikan mu,dari jauh,  mencari informasi kepada orang yang mengenalmu, salah satu dari mereka memberi ku alamat sosial media mu , tapi aku enggan untuk menyapa, lewat pesan Facebook atau IG, aku malu , semakin aku memperhatikan mu, rasa suka ini semakin menjadi jadi, tapi aku tidak berani untuk menyapa ,  setiap hari aku berdoa kepada Tuhan,meminta untuk bertemu dengan kamu, namun aku tidak kunjung bertemu,lalu aku berdoa lagi bahwa aku ingin menikahinya sesuai ijin Tuhan , dan pada ahirnya, ada dorongan yang sangat kuat untuk menemui Ayah mu , setelah itu dalam hati ku ada keraguan apakah kamu menerima atau tidak , aku sengaja cuek karena aku takut menyakiti mu, karena  dari awal aku menghubungi mu ,kamu langsung marah, semenjak saat itu aku berhati hati takut salah ucap, menghubungi mu buat ku cukup menanykan kabar saja sudah lebih baik , dan aku terus berdoa kepada Tuhan untuk bisa memiliki kamu seutuhnya , jangn tanya kenapa aku mencintaimu ? bukankah mencintai seseorang tidak butuh alasan. " ahinya Sofi mendapat jawaban dari ribuan , pertanyaan yang menghantuinya selama ini, Sofi ingat setaun yang lalu , di Mall BTM dia putus dengan Dimas , lalu Sofi menangis, ada seorang lelaki yang memberinya tissu , waktu itu Sofi tidak melihat wajah lelaki yang memberi dia tisu dia terlalu hanyut dalam kesedihan  , hari ini Sofi berasa di bawa terbang tinggi oleh Ali,kupu kupu dalam perutnya berterbangan kesana kemari ada rasa haru yang Sofi rasakan, betapa dia sangat berarti buat Ali , 'mungkinkah ini jawaban atas apa yang aku lakukan selama setaun ini , menjaga hati ku untuk tetap utuh  , Zona nyaman yang sering ku sebut sebutkan, tanpa ada orang yang di perbolehkan untuk mengetuk hatiku setelah sekian banyak lelaki yang mengecewakan aku , ternyata sudah ada orang yang spesial yang siap untuk mengisinya ya dia Ali ' sopi terharu mata nya berkaca kaca stelah mendengar penjelasan Ali, yang panjang lebar menceritakan semua tentang dirinya , betapa Sofi sangat berarti di kehidupannya, sampai menunggunya selama satu taun, Sofi terharu ini pertama kali dalam hidupnya merasa di perjuangkan oleh seorang lelaki setelah Ayahnya ,Sofi tidak sanggup lagi menahan bendungan air matanya, ahirnya Sofi menangis haru, 
" Maapkan aku karena tidak menyadarinya, "
Ali mengusap air mata Sofi,merasa bersalah karena telah membuatnya menangis,
" Tidak apa apa , justru aku yang harus minta maap, karena telah lancang datang ke orang tua mu dan kamu di buat bingung dengan semua ini," Ali membiarkan Sofi untuk menangis , Ali sangat mengerti mungkin Sofi masih shok dan kaget, jadi Ali memberi waktu untuk Sofi menenangkan dirinya ,
5 menit kemudian
Sofi menatap Ali lekat lekat,
" Apakah aku bermimpi ? " tanya Sofi
" hmmm tidak," sopi mencubit pipinya untuk memastikan kalau ini bukan lah mimpi 
" Ini nyata... Ini nyata "
Sofi kembali menatap Ali yang kesekiankalinya, sorotan matanya kali ini bukan di penuhi rasa penasaran dan ratusan pertanyaan, tapi sorotan mata Sofi kali ini berbeda , 
" Will you marry me ? " ucap Ali 
Sofi menjeda bebeapa detik untuk mebiarkan kupu kupu dalam perutnya untuk terbang tinggi , " Yes i will " 

Aku

Nama ku Soffia. anak satu satunya keluarga Dahlan , yah Ayah ku Ahmad Dahlan dan ibu ku Fatma dahlan , dan aku Soffia Safira Dahlan. Memiliki nama yang di ahiri dengan nama belakang Ayah, memang sudah menjadi tardisi di keluarga ini. Kupijakan kehidupan dari lahir sampe berumur 20 taun ini, di kampung bojong koneng kabupaten Bogor. Yaps Bogor adalah kampung halaman ku, yang sangat indah dan nyaman. Memiliki ciri khas daerah yang sangat lekat dengan adat sunda, dari makanan atau budaya lainya. Satu lagi Bogor adalah kota hujan. Begitu banyak kisahku, yang terlukis disini, kisah persahabatan dan kisah cinta ku. Tentunya semua orang memiliki kisah hidupnya masing masing, mungkinkah ada yang sama dengan ku.

Seorang lelaki berseragam guru, memakirkan motr beat nya di halaman rumah. aku yang sedang menjemur pakaian menghampirinya dengan sopan.
" Cari siapa Pak ?" tanya ku.
" Saya cari Pak Ahamd , Ahmad Dahlan apa betul ini rumahnya. " Jawabnya.
" Eh iyah betul Pak, mari masuk. " Lelaki itu membuntutiku masuk kedalam rumah.
" Duduk aja dulu Pak, nanti saya panggilin Ayah di belakang. " lelaki itu hanya mengaggup.

Hitungan beberapa detik Ayah menghampirinya, ada rasa penasaran dalam diriku, sebnarnya bukan kebiasaan ku untuk menguping pembicaraan tamu Ayah. tapi, ada yang aneh hari ini.
Sayup-sayup Ayah terdengar menyapa dan sering bertanya, pada lelaki itu.
" Maksudnya Neng Soffi. "  Saat namaku disebut, rasa penasaraan ku semakin menjadi-jadi lalu, aku menguping dari dekat.
" Iyah soffie anak Bapak. Saya ingin menikahinya."  Tidak ada hujan tidak ada awan gelap, yang ada hanya matahari memancarakan cahayanya yang trik. Namun aku mematung di pojokan ini, berasa di sambar petir disiang bolong.
" Hehe memangnya kamu tinggal di mana ?" tanya ayah.
" Saya asli Bandung Pak, tapi saya pindah ke Bogor dan mengajar si SMP Al-Hidayah. " Sudah terbaca dengan seragam yang dia kenakan,  aku semakin menyiapkan telinga ingin tau lebih banyak , siapa dia ? mengapa dia tiba-tiba ingin menikah dengan ku, padahal aku tidak mengenalnya.
" Oh sejak kapan kamu kenal Sofi. "
" Baru hari ini Pak, saya ingin lebih dulu berkenalan dengan Bapak. " dapat kulihat dia sama sekali tidak gugup. dia menjawab setiap pertanyaan yang di lontarkan Ayah dengan baik

" Ya sudah Pak saya pamit pulang yah. "
" Tunggu. bapa panggilkan Soffi untuk mengantar ke depan. "
" Tidak usah Pak. "
Setelah dia menghilang di daun pintu, aku masih mematung mencerna setiap pembicaraan lelaki tadi dengan ayah.

Apa dia sudah gila, datang kerumah cuma untuk meminta ijin untuk melamar ku.
Apa aku mengenalnya ? Tidak.
Apa aku pernah melihatnya? Tidak.
Apa aku kenal dengan keluarganya? Tidaaaaaaak.

Rabu, 28 Maret 2018

Ego

Seharian ini aku masih saja meratapi semua kesalahan ku , kesalahan yang membuat ku sedikit bingbang dan resah , resah karena aku telah berkata yang tidak enak di dengar mungkin saja itu tidak akan termaapkan , iyah aku menyadari itu dan aku menyesalinya ,
Apa dia akan memaapkan aku ? Dan bingbang karena di sisi lain aku tidak ingin dia meninggalkan aku,
Aku benar benar bingung sekarang apa yang harus aku lakukan? meminta maap atas semua kesalahan ku apa aku akan terus terusan meratapi semuanya,karena ego ku yang sangat tinggi ini sehingga sulit sekali aku mengalah dan meminta maap , semuanya benar benar sangat menganggu sekali , kuteguk segelas air jeruk yang ku pegang berharap semua penat yang mengganggu ku hari ini akan hilang , nyatanya aku sudah meminum 3 gelas air jeruk dan hasilnya tetap sama aku masih memkikirnya , sial ego dan pikiran ku masih saja berperang sehingga sulit sekali untuk menentukan siapa pemenangnya , bila ego ku yang kalah tentu aku harus meminta maap dan menyadarinya ,namun bila pikiran ku yang menang munggkin saja aku akan terus terusan meratapi semuanya tanpa meminta maap ,
" apa kau tidak bosan seharian berdiam dan murung begini ? " aku menoleh ke arah suara itu , kulihat Della melipatkan tangannya dan bersandar di daun pintu yang terbuka
" aku sangat bosan sampe otak ku ingin meledak "
" kenapa kau tidak ledakan saja biar semuanya beres " ledek Della lalu dia menghampiri ku
" boleh kah"
" apa begitu sulit buat mu meminta maap ? " saut Della , iyah kemaren aku cerita banyak dengan Della tentang masalahku , dan hari ini aku menyuruhnya datang ke rumah untuk sekedar menemani ku yang mumet ini
" tapi Del aku rasa itu tidak perlu " sial ego ku masih saja tidak ingin mengalah
" tidak perlu ! tapi kau masih saja kepikiran sampe kau lupa makan lupa mandi lupa dandan cantik .... ah sudahlah Rell aku tau kau ingin sekali menyelesaikan semuanya "
" ....iyaa tapi....bagaimana caranya Del ? " tidak ada cara lain aku harus mendengarkan saran Della karena ego dan pikiran ku tidak ada yg mau mengalah
" ok dengarkan baik baik , kalau kau ingin semuanya selesai apa susahnya meminta maap dan menyesali semuanya , dan aku rasa dia juga pasti bakal mengerti dan pastinya memaapkan mu,  jangan kau berpikir kalau posisi mu sangat berharga buat dia pasti dia bakal kembali sekalipun kau yang salah , oh Jarel pemikiran macem apa itu kau pikir dia apa ? Dia juga manusia memiliki perasaan dan batasan kalau kau berpikir terusterusan merasa jadi orang yang harus di perjuangkan itu salah Rel salah banget , emang paktnya wanita harus di perjuangkan apa kamu tidak lihat perjuangan dia dari awal hah ? Sekali dia berbuat salah dia mohon mohonan minta maap dan sekarang kau yang membuat masalah malah ogah minta maap , apa kau menunggu dia yang meminta maap duluan ? Sedangkan kau sendiri yang membuat masalah  hangout sama bocah tengik itu"
Aku terdiam mecerna semua kata kata Dela iyah aku memang bodoh aku berpikiran bahwa aku orang yang spesial di mata dia sehingga aku berpikir aku patut di perjuangkan tanpa aku memikirkan perasaanya , dan sekarang memang aku berharap dia yang meminta maap duluan padahal kesalahan aku yg mulai , aku hangout sama justin itu tidak sengaja namun aku mengiyakan ajakan dia lalu tanpa aku sengaja aku bertemu dengan dia dari situ aku bertengkar dan bodohnya aku malah membela posisi justin , ah memang bodoh
" jarell aku mohon kurangi sipat ego mu jadilah wanita yang bisa di pahami dan yang bisa di ajak berjuang bersama sama , jangan berjuang sebelah pihak dan itu rasanya sakit rel sakit coba bayangkan bila posisi dia berada di kamu apa yang akan kamu lakukan , pergi ? Karena perjuangannya tidak di hargai malah di bals dengan makian yang tidak jelas , apa akan bertahan dengan rasa yang tak terbalas ,semuanya sangat menyebalkan rel , sekarang cobalah kamu lihat perasaan dia !

Kata kata dela tadi siang masih terngiang ngiang di atas kepala ku , rasanya begitu sulit untuk mengambil keputusan , ahirnya detik demi detik hati kecilku berusaha untuk mendukung pilihan ku anatara melepaskan dan bertahan , suara dering telvon lantutan lagu justin bieber ,membuyarkan sidang anatara hati dan pikiranku segera ku menyambar benda itu aku sedikit kaget saat melihat nama yang tertera di layar hp itu 

" asalaumalaikum , " kata seseorang di sebrang sana 

" walaikumsalam , " jawab ku , jantung ku berdetak tak karuan mendengar suara dia , dia yang aku kecewakan kemarin 

" aku di luar rumah mu cepatlah keluar ," 




Jumat, 16 Februari 2018

Modus

Alasan ku untuk meninggalkanya bukan karena aku sudah tidak mencintainya , tapi sikap dia yang membuat ku merasa ingin pergi dari sisinya ,
Bukan aku tak sabar tapi aku memiliki batasan
Aku merasa di bohongi olehnya

aku tidak melihat bukti dari kata kata nya yang menjanjikan suatu kebahagian di masa depan , aku merasa telah di permainkan olehnya dan bodohnya lagi aku seperti wanita yang tidak tau diri , yang berharap akan semua kebohongan yang dia buat menjadi kenyataan ,

Dan kesekian kalinya aku terjatuh dan di permainkan , dia yang membuka hati ini lalu dia juga yang menyakitinya aku benar benar menjadi orang bodoh yang mempersilahkan dia untuk masuk ke dalam hatiku tanpa aku sadari dia masuk dengan membawa pisau lalu dia keluar dengan keadaan pisau itu menusuk hati ku ,
"Apa kau menangis lagi ? " seorang lelaki mengampiriku
"Hanya sedikit " jawab ku
" menangislah kalau itu benar bner terasa sakit " aku menoleh ke arahnya ,
" aku akan memberimu bahu untuk bersandar " lanjutnya ,lalu dia duduk di sebelah kananku dia menepuk nepuk bahunya seolah mempersilahkan ku untuk bersandar ,
Setehlah ku menyeka hidung ku yang terasa mampet ahirnya aku menyadarkan kepalaku di bahunya , dan ini rasanya nyaman ,
" aku tau permasalahan mu " katanya , 
" sudahlah aku tidak ingin mendengar itu "
"....... kadang aku merasa heran pada mu , keberadaan ku yang bertaun taun di sisimu apa tidak memiliki arti ? Sedangkan keberadaan dia yang berbulan bulan bisa memiliki arti sampe  hatimi luluh padanya "
aku mengusap air mataku dan menggeser posisiku tidak lagi bersandar di bahunya , aku mencerna apa yang dia katakan ,
" tentu saja kau memiliki arti " jawabku
" arti persahabatan maksudmu.....kau tau aku lelaki dan kamu perempuan apa kamu masih percaya bahwa seorang lelaki hanya bersahabat dengan perempuan kalau tidak dia memiliki perasaan terhadap sahabatnya sendiri " aku menoleh ke arahnya
" perasaan ? Perasaan apa maksud mu ?" Tanya ku jujur saja aku tidak paham dengan topik pembicaraanya
" apa kamu hanya melihat ku sebagai sahabat pada umumnya
Kau tidak memandangi aku sebagai lelaki ? "
" apa maksud mu pembicaramu semakin melantur aku tidakmengerti " yah jujur saja aku tidak mengerti denganya , otak ku masih di liliti dengan perasaan kecewa hingga sangat lemot untuk mencerna setiap kata kata
" ah sudah lupakan... Tidak seharunya aku membahas ini keadaan mu sangat kacau .... Kau tau aku sangat ingin menendang orang yang sudah tega menyakiti sahabatku ini aku benar benar ingin memukulnya ciat ciat ciat " dengan expresi ala ala orang yang sedang menonjok , aku tersenyum melihat tingkah konyolnya itu